Hujan selalu berkesan. Ia mampu membawa setiap insan
terbuai dalam kenangan. Kenangan manis, pahit, cinta, derita, semua dalam
angan. Hujan di Bandung selalu berbeda, ia lebih tenang. Simfoni hujan Bandung
sangat rumit, klasik, tapi artistik. Komposisi alat music apapun tidak akan
mampu menandingi indahnya lagu hujan di Bandung, karena Bandung sangat
istimewa. Bandung diciptakan ketika Tuhan sedang bahagia. Begitupula Bandung,
menciptakan kenangan untukku yang penuh makna.
Hujan deras kala itu di selatan Bandung. Aku dan
Fahri sedang menikmati romantisme itu di sebuah café yang tenang dan nyaman.
Itu adalah pertemuan pertama kami, setelah beberapa minggu kami dekat karena
diperkenalkan oleh sahabatku. Awal mengenalnya biasa saja, seorang laki-laki
yang punya hobi begadang dan minum kopi. Tapi lambat laun aku merasakan hal
yang aneh, yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Kata orang, aku jatuh
cinta.
Aku belum pernah jatuh cinta sebelumnya, merasakan
hal seindah ini, senyaman ini, merasa dia adalah satu-satunya lelaki terbaik di
dunia, lelaki yang rela menyerahkan seluruh kebahagiaannya untukku, lelaki yang
selalu kurindukan setiap malam. Aku pernah dekat dengan beberapa orang teman
laki-lakiku, namun belum pernah senyaman ini. Ya, nyaman. Kata pujangga
kenyamanan itu segalanya.
Aku bahagia, sangat bahagia, namun sisi hatiku yang
lain menolak.
‘Ini tidak sesuai ajaran, ini zina, ini dosa, dan
ini bukan aku!’.
Gejolak itu seakan bergulat dengan naluriku di dalam
hati. Membengkokkan setiap ruas tulang yang kuat dan menghancurkan yang rapuh. Hal
itu semakin menjadi ketika aku dan dia saling meluangkan waktu untuk bertemu,
makan berdua, sekedar jalan, atau melakukan apapun berdua, pernyataan
kontradiktif itu selalu muncul dan membuatku muak. Aku berusaha mencari
pembenaran akan hal-hal itu.
‘Aku tidak pacaran, aku tidak berzina, aku tidak
melakukan apapun dengannya, aku menatap matanya saja tidak berani, ini bukan
dosa.’
Pembenaran-pembenaran itulah yang menguatkanku
bertahan dengannya. Kami memang dekat, tapi kami tidak pacaran. Aku
mencintainya, namun aku tidak boleh melakukannya. Aku ragu. Tapi cintaku
padanya bukan sebuah keraguan. Aku sangat mencintainya. Aku rela memperjuangkan
apapun demi kebahagiaannya, namun tidak untuk kehilangannya. Aku belum siap
merelakan keindahan dan kebahagiaan bersamanya. Keindahan hari-hariku setiap
waktu bersanding dengannya, kebahagiaan yang selalu membuncah ketika bertemu
dengannya, segalanya tentang dia.
Pada suatu malam di balkon resto di pinggir kota
Bandung, dia menyatakan perasaannya, lengkap dengan bunga dan bungkusan kotak
kecil berwarna merah muda. Seketika itu juga duniaku runtuh di depan mataku
sendiri. Aku bahagia, mengetahui cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku
bimbang, galau, ragu, apa yang harus aku jawab, hingga akhirnya dia mengerti
dan memberikanku waktu untuk memikirkannya. Siang malam menimbang-nimbang,
akhirnya aku memantabkan hati untuk menerima cintanya.
Allah berkata lain. Sebuah musibah besar melanda
keluarga Fahri. Pabrik milik perusahaan keluarga Fahri terbakar, hingga tidak
ada yang tersisa. Fahri sangat terpuruk, sangat terpuruk, hingga dia sangat
sulit untuk dihubungi. Aku terus mencoba menjadi orang yang selalu ada
untuknya, namun dia menolak, dia terlalu larut dalam kesedihannya, hingga
akhirnya dia memutuskan untuk mundur dalam hubungan kami.
Dia akan D.O, meninggalkanku, dan fokus untuk membangun perusahaan baru
bersama keluarganya. Semenjak saat itu, dia menghilang. Dan saat itu pulalah
aku hancur. Aku merasa aku memang tidak pantas untuk diperjuangkan, bahkan
seluruh caraku untuk membuatnya bahagia ketika dia terpurukpun tanpa arti. Aku
bukan siapa-siapa untuknya. Kami sangat berbeda. Fahri dari keluarga yang kaya
raya, cerdas, dan terhormat, sedangkan aku hanya anak pensiunan pegawai
rendahan di sebuah kantor di kampung yang sebidang sawah pun tidak punya. Aku
tidak pantas untuknya. Keputusan Fahri untuk meninggalkanku benar, aku hanya
akan mengganggunya apabila hubungan kami terus berlanjut.
Hampir sebulan lamanya setiap malam datang aku
menangis, merenungi apa yang baru saja aku alami. Beberapa malam tidak tidur
karena kenangan-kenangan yang semakin menusuk hati. Berulangkali jatuh sakit
karena memikirkan hal yang sama. Berbuat bodoh dengan mencari-cari perhatian
orang lain melalui sosial media. Aku hampir melupakanNya karena rasa sakit yang
aku ciptakan sendiri.
Aku sangat berburuk sangka pada Allah saat itu. Aku
bahkan lupa bahwa semua perasaan ini karenaNya, dan mungkin ini adalah wujud
rasa sayangNya untuk menjagaku. Maafkan aku Ya Rabb. Aku adalah seorang
pendosa, seorang yang sangat buruk, yang sangat mengharapkan ampunanMu karena
berbagai kesalahan yang aku perbuat. Aku merasa Engkau terlalu menyayangiku,
sehingga aku sering lupa kalau semua ini sebenarnya adalah anugrah, wujud kasih
sayang, hanya saja aku melihatnya dengan cara yang salah. Rasa sakit itu
semakin lama memudar, hilang, terbang terbawa angin dan hujan. Aku kembali
ceria, menemukan duniaku yang baru. Hingga suatu hari aku melihatnya di koridor
kelas. Fahri masih kuliah. Seketika itu pula aku lemas, kakiku terasa seperti
jelly yang tidak kuat menopang berat badanku. Aku bingung, linglung, kaget, dan
aku tidak tau lagi. Aku tidak bisa berkata-kata.
Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa dia kembali
kesini lagi? Apakah waktu itu Fahri menipuku? Atau semuanya sekarang telah
membaik? Ya Allah, rasa hancur itu kembali lagi. Aku tidak bisa membohongi
diriku sendiri, aku masih sangat mencintainya. Bahkan, aku selalu berdiri di pinggir
danau berjam-jam hanya untuk melihatnya. Melihat jiwa yang sangat aku cintai,
yang penah meninggalkanku karena alasan yang tidak aku mengerti. Kenapa aku
gila seperti ini Ya Allah. Setelah aku hampir mengikhlaskannya, dia kembali
lagi. Ya, memang kami tidak berkomunikasi lagi, namun selama itu pulalah aku
selalu khawatir tentang keadaannya, sehingga berdiri di pinggir danau untuk
melihatnya dan memastikan bahwa dia baik-baik saja sudah sangat cukup bagiku.
Ya Allah, bila dia memang jodohku, persatukanlah kami di jalan yang Engkau
ridhai.
Suatu ketika Fahri memergokiku sedang berdiri di
pinggir danau,seketika itu pulalah aku berlari, lalu Fahri menghubungiku,
mengajakku bertemu. Ya Allah, ini apa lagi, hamba harus bagaimana.
Aku mengiyakan ajakan Fahri, aku tidak dapat
memungkiri perasaanku yang sangat rindu. Kami berbincang di sebuah café di
pusat kota Bandung. Dia menceritakan semuanya, tentang perusahaan keluarganya
yang kini mulai bangkit kembali. Perasaan merasa bersalah tampak jelas di
wajahnya, dan dia mengakui itu. Mengakui bahwa dia menyesal meninggalkanku, dia
mengakui bahwa jauh dariku adalah sebuah kesalahan. Seketika itu pula aku
merasa dunia runtuh di depan mataku sendiri. Aku mencintainya Ya Allah, dan dia
telah kembali.
Pergulatan nafsu kembali terjadi di dalam diriku.
Ini kesempatan besar aku bisa mendapatkannya. Seseorang yang sangat aku cintai,
yang sangat aku harapkan menjadi pendamping hidupku kelak. Tapi, Islam tidak
seperti itu. Aturan hidupku tidak begitu. Sebuah kesalahan besar bila aku
mengganggu hidupnya lagi. Dia harus fokus, demi masa depannya. Aku harus
mundur. Tapi aku tidak mampu, tidak untuk saat ini.
Semenjak hari itu aku terus meminta petunjuk. Aku
sangat bimbang. Aku tau, Islam melarang ini, tapi aku tidak tau kenapa Allah
menghadirkan dia kembali. Aku takut aku menyesal. Entah itu penyesalan dalam
keputusan yang mana, aku bimbang, aku takut, tapi aku mencintainya. Aku banyak
berkonsultasi dengan orang yang sangat baik mengenalku, dan mereka memberikanku
penjelasan akan banyak hal.
Akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkannya.
Dengan berbagai alasan klasik yang kuberikan untuknya. Mungkin dia mengira ini
adalah wujud balas dendamku kepadanya karena dia dulu telah meninggalkanku.
Tapi bukan, tidak, aku tidak ingin Fahri berfikir seperti itu. Fahri sangat
menerima keputusanku, bahkan dia tidak menahanku untuk pergi sama sekali. Itu
membuatku hancur, ketika aku sangat berharap dia akan menahanku untuk pergi,
namun yang terjadi adalah sebaliknya. Apakah dia sudah mencintai wanita lain?
Aku tidak peduli, yang aku pedulikan adalah aku tetap berada di jalanku dan
tetap mencintainya. Aku ingin selalu berada dalam aturanMu Ya Rabb. Aku hancur.
Aku sakit. Tapi aku tau, ini adalah proses, ini adalah sebuah pendewasaan
hingga nanti pada akhirnya, bila dia memang jodohku, akan Kau hadirkan dia
kembali dalam hidupku dengan kesiapan kita masing-masing. Aku percaya itu.
Aku masih mencintainya, masih berdiri di pinggir
danau menunggu kedatangannya, diam-diam menunggunya di depan kampusnya, hanya
untuk memastikan kalau dia baik-baik saja. Mungkin orang lain mengira aku sudah
gila, merelakan orang yang sangat aku cintai. Membiarkan orang itu hidup dengan
wanita lain. Tapi itu saat ini, nanti, tentang jodoh kita, rezeki kita, biar
Allah yang mengatur. SkenarioNya jauh lebih indah.
Hari demi hari berlalu begitu saja, semakin indah
dengan keputusan yang aku buat. Rindu adalah sebuah penyakit, dimana bertemu
adalah candu, dan doa adalah obat penahan rasa sakit. Bisa saja aku menemuinya,
tapi itu akan membuatku semakin ingin bertemu dengannya lagi dan lagi,
sedangkan dengan doa, aku akan tenang, setidaknya dengan doa aku bisa bertemu
dengannya, dengan caraNya, atas ijinNya.
Sungguh hijrah ini indah, mengajarkan padaku arti
sebuah cinta, kesabaran, dan pembelajaran. Allah sungguh merencanakan segalanya
dengan menarik. Tidak ada cacat sedikitpun di dalamnya. Jalan yang aku pilih
mungkin dianggap salah oleh banyak orang, tapi aku yakin, ini adalah jalan
terbaik. Aku akan mendapatkannya kembali bila dia memang benar-benar jodohku.
Dia akan datang kembali di saat yang tepat, di waktu yang tepat, dan bila itu
bukan dia, yang akan datang adalah orang yang jauh lebih sempurna.
Pada awalnya sangat sulit, berat menerima kenyataan
yang ada. Tapi setelah dijalani dengan ikhlas, selalu berfikir positif dan
yakin akan janji Allah, semua jadi semakin mengagumkan. Cinta itu ada etika,
dan cara terbaik untuk mendapatkannya adalah dengan doa dan percaya pada
skenarioNya.
‘turn right,
turn left, turn love’
Tetapilah kebenaran, mantabkan untuk meninggalkan
kesalahan, dan cintai apa yang sedang kamu lakukan. Kalimat itu menjadi kalimat
penutup di buku diary 2015. Kalimat
penutup dari kenangan yang sudah aku ceritakan. Aku siap menulis cerita-cerita
indah lain di 2016, yang pastinya akan aku mulai dengan visi misi hidupku di
halaman satu.

Blue Titanium Art - Tithology - Tithology
BalasHapusThis titanium necklace item includes the blue titanium art that was part of Tithology's Tithology collection. The galaxy watch 3 titanium Blue หารายได้เสริม Tithology project allows artists to ford focus titanium hatchback bring Tithology thinkpad x1 titanium