Jumat, 26 Agustus 2016

Dua Malaikat

           Ibu adalah seorang yang paling berjasa dalam hidup kita, yang rela berjuang demi kebahagiaan anaknya, dan rela mati demi hidup anaknya. Ibu adalah makhluk terindah di dunia, yang diciptakan Allah untuk membuat hidup kita penuh alasan. Alasan menghargai seorang Ibu, Fara mempunyai cerita yang berbeda. Fara adalah anak pertama dari sebuah pasangan suami istri biasa di pinggiran kota. Ayahnya bekerja sebagai staff di sebuah kantor, dan Ibunya bekerja sebagai agen MLM. Suatu sore di serambi masjid yang tenang dan damai, Fara berbagi cerita tentang hidupnya.
Aku tidak tahu apa maksud perkataan orang-orang yang selalu mengejek aku anak pungut karena kulitku putih dan kedua orang tuaku berkulit gelap. Aku tidak tahu apa maksud Ibu yang katanya berjiwa bak malaikat namun selalu memukuliku setiap waktu sejak aku kecil. Hal yang paling tidak aku mengerti adalah, apa maksud Ayah yang diam-diam memiliki wanita idaman lain selain aku dan Ibu. Aku sudah cukup menyimpan semua ini sendirian, selalu hancur setelah pertengkaran Ibu dan Ayah, dan selalu bersikap tegar ketika seluruh badanku lebam karena pukulan. Aku tidak tahu itu pelampiasan amarah Ibu, atau memang malaikat yang ada di rumahku ini cukup berbeda. Aku cukup sering memberontak, menangis sekuat tenaga hingga para tetangga datang, tapi apa daya? Tidak ada yang bisa mencegah Ibu melakukan itu padaku, bahkan Ayah.
Beberapa waktu yang lalu Ibu dan Ayah memutuskan untuk bercerai. Betapa hancurnya aku. Aku tahan dengan pukulan Ibu yang bertubi-tubi, maupun bekerja terus menerus tanpa lelah demi mendapatkan uang Rp5000 untuk uang saku sekolah yang tidak pernah diberikan Ibu, asal jangan perceraian. Dengan siapa aku nanti hidup? Akankah aku akan bahagia? Aku masih anak SMA yang perlu kasih saying dan perhatian. Aku tidak sanggup hidup hanya berdua dengan Ibu, tapi aku juga tidak mau hidup berdua dengan Ayah dan wanita simpanannya. Aku butuh Ayah dan Ibu, bagaimanapun sikap mereka padaku.
Aku hanya bisa terus bersabar serta tak henti-hentinya bersujud dan berdoa, apapun yang aku lakukan tidak akan pernah dihargai oleh Ibu dan Ayah. Hanya sesekali mereka mendengarkanku, itupun ketika mereka sedang memerlukan sesuatu dariku. Aku tidak tahu apakah keluarga lain seperti itu. Apakah mereka menjadikan anaknya sebagai aset untuk mendapatkan apa yang mereka mau. Kadang aku berfikir aku memang anak pungut.
Perceraian itu pun terjadi. Aku hidup dengan Ayahku di rumah baru kami yang sudah setengah jadi. Wanita itu sering datang,membawakan makanan ataupun membelikanku pakaian. Tapi jujur, aku lebih mencintai Ibuku, meskipun beliau jarang membelikan pakaian tapi aku yakin perlakuan beliau padaku hanya karena beliau sedang mengalami masalah yang berat.
Keluarga dari Ayahku cukup simpatik dengan apa yang aku alami, terutama Bude Asti. Beliau selalu menenangkanku, memberikanku semangat, dan menghiburku meskipun kami hanya bertemu sekali dalam setahun karena beliau tinggal di Tabanan. Semakin sulitnya hidup yang aku rasakan, pada suatu hari aku menceritakan semua hal yang tidak pernah aku ceritakan padanya, termasuk perlakuan Ibu padaku. Bude Asti menangis tanpa henti di depanku, aku bingung, tapi aku juga hanya bisa menangis. Beliau mengutarakan permintaan maaf padaku, entah untuk apa, lalu keesokan harinya beliau terbang ke Tabanan.
Respon Bude terhadap ceritaku membuatku merasa aku benar-benar hidup sendirian. Aku merasa sosok yang selalu aku andalkan sebagai penenang telah pergi karena cerita konyol kehidupanku. Tapi aku harus kuat dan semangat, karena satu-satunya yang menjadi semangatku adalah Allah dan teori tentang Ibu. Ya, meskipun teori bahwa Ibu itu bak malaikat, aku yakin aku juga dapat menerapkan teori itu, hanya saja untuk saat ini belum berpihak padaku. Bulan demi bulan berlalu, setiap aku datang ke rumah Ibu, beliau memukulku seperti biasa. Melempariku dengan panci, gelas, dipukul, dicambuk dengan ikat pinggang, namun apa daya, aku hanya seorang anak yang berkewajiban menjaga Ibuku, terlebih aku sangat mencintainya.
Suatu ketika setelah aku pulang dari bekerja, aku kaget melihat Bude Asti dan suaminya datang ke rumah, sedang berbincang dengan Ayah. Ini bukan hari raya, tidak biasanya Bude Asti datang. Wajah beliau memerah lalu menangis ketika melihatku, entah mengapa. Lalu aku menghampiri beliau dan beliau memelukku sambil terisak. Lalu dengan pelan beliau mengatakan bahwa aku adalah anaknya. Anak yang dulu dititipkannya pada adiknya karena himpitan ekonomi dan keadaan adik iparnya yang divonis mandul.
Aku merasa hidup dua kali, aku merasa bangun dari mimpi burukku yang terkesan nyata. Aku menanyakan kebenaran perkataan Bude berkali-kali, dan jawabannya tetap sama, tangis. Aku ingin berteriak sekencang-kencangnya, mencari pembuktian tentang semua ini, tapi aku tidak berdaya, aku terlanjur lemas karena kabar ini. Aku makin tak berdaya ketika Ibu datang lalu memberikan pengakuan tentang semuanya, serta permohonan maafnya atas perlakuannya selama ini. Dari situlah titik balik kehidupanku dimulai. Aku tetap meneruskan sekolahku di sini, di Jogja, tinggal bersama Ayah atau Ibu untuk satu atau dua hari dalam seminggu, dan menghabiskan sisanya di kos yang telah disewa oleh Ayah kandungku untukku. Aku bahagia menjalani hari-hariku, seakan-akan tanpa beban, tidak ada lagi pukulan dan cambukan, tidak perlu lagi aku bekerja agar dapat jajan ketika sekolah.
Aku mencintai Ibuku, Ibu asuhku dan Ibu kandungku. Aku tidak akan pernah mungkin membenci Ibu asuhku. Beliau telah mengasuh dan merawatku, menjadikanku hingga aku seperti ini, dan pastinya atas jasa beliaulah aku masih dapat tetap hidup. Terlepas dari pengasuhannya, Ibu angkatku memerlakukanku berbeda. Tidak ada lagi kata-kata kasar atau pukulan. Kini aku punya dua malaikat, yang keduanya saling menjagaku seperti permata. Teori tentang Ibu telah berlaku dalam hidupku, bahkan aku lebih beruntung dari orang lain, karena saat ini aku memiliki dua malaikat.

Itulah yang diceritakan Fara, aku menangis haru, memeluknya, saling tertawa ketika kami menertawakan air mata kami satu sama lain, tapi aku belajar banyak hal. Betapa Allah mencintai kita begitu dalamnya, memberikan cobaan dengan besarnya hikmah dibaliknya. Fara tidak pernah berputus asa akan rahmat Allah, dan buah dari kesabaran dan keikhlasannya adalah kebahagiaannya saat ini. Fara adalah gadis yang tegar dan kuat, semangatnya, ibadahnya, dan pengorbanannya sangat menginspirasi. Betapa Allah mencintai Fara, begitu pula Allah mencintai kita.

Cerpen ini dimuat pula di : nindinajati.blogspot.co.id

0 komentar:

Posting Komentar