Ibu
adalah seorang yang paling berjasa dalam hidup kita, yang rela berjuang demi
kebahagiaan anaknya, dan rela mati demi hidup anaknya. Ibu adalah makhluk
terindah di dunia, yang diciptakan Allah untuk membuat hidup kita penuh alasan.
Alasan menghargai seorang Ibu, Fara mempunyai cerita yang berbeda. Fara adalah
anak pertama dari sebuah pasangan suami istri biasa di pinggiran kota. Ayahnya
bekerja sebagai staff di sebuah
kantor, dan Ibunya bekerja sebagai agen MLM. Suatu sore di serambi masjid yang
tenang dan damai, Fara berbagi cerita tentang hidupnya.
Aku
tidak tahu apa maksud perkataan orang-orang yang selalu mengejek aku anak
pungut karena kulitku putih dan kedua orang tuaku berkulit gelap. Aku tidak
tahu apa maksud Ibu yang katanya berjiwa bak malaikat namun selalu memukuliku
setiap waktu sejak aku kecil. Hal yang paling tidak aku mengerti adalah, apa
maksud Ayah yang diam-diam memiliki wanita idaman lain selain aku dan Ibu. Aku
sudah cukup menyimpan semua ini sendirian, selalu hancur setelah pertengkaran Ibu
dan Ayah, dan selalu bersikap tegar ketika seluruh badanku lebam karena
pukulan. Aku tidak tahu itu pelampiasan amarah Ibu, atau memang malaikat yang
ada di rumahku ini cukup berbeda. Aku cukup sering memberontak, menangis sekuat
tenaga hingga para tetangga datang, tapi apa daya? Tidak ada yang bisa mencegah
Ibu melakukan itu padaku, bahkan Ayah.
Beberapa
waktu yang lalu Ibu dan Ayah memutuskan untuk bercerai. Betapa hancurnya aku.
Aku tahan dengan pukulan Ibu yang bertubi-tubi, maupun bekerja terus menerus
tanpa lelah demi mendapatkan uang Rp5000 untuk uang saku sekolah yang tidak
pernah diberikan Ibu, asal jangan perceraian. Dengan siapa aku nanti hidup? Akankah
aku akan bahagia? Aku masih anak SMA yang perlu kasih saying dan perhatian. Aku
tidak sanggup hidup hanya berdua dengan Ibu, tapi aku juga tidak mau hidup
berdua dengan Ayah dan wanita simpanannya. Aku butuh Ayah dan Ibu, bagaimanapun
sikap mereka padaku.
Aku
hanya bisa terus bersabar serta tak henti-hentinya bersujud dan berdoa, apapun
yang aku lakukan tidak akan pernah dihargai oleh Ibu dan Ayah. Hanya sesekali
mereka mendengarkanku, itupun ketika mereka sedang memerlukan sesuatu dariku.
Aku tidak tahu apakah keluarga lain seperti itu. Apakah mereka menjadikan
anaknya sebagai aset untuk mendapatkan apa yang mereka mau. Kadang aku berfikir
aku memang anak pungut.
Perceraian
itu pun terjadi. Aku hidup dengan Ayahku di rumah baru kami yang sudah setengah
jadi. Wanita itu sering datang,membawakan makanan ataupun membelikanku pakaian.
Tapi jujur, aku lebih mencintai Ibuku, meskipun beliau jarang membelikan
pakaian tapi aku yakin perlakuan beliau padaku hanya karena beliau sedang
mengalami masalah yang berat.
Keluarga
dari Ayahku cukup simpatik dengan apa yang aku alami, terutama Bude Asti.
Beliau selalu menenangkanku, memberikanku semangat, dan menghiburku meskipun
kami hanya bertemu sekali dalam setahun karena beliau tinggal di Tabanan.
Semakin sulitnya hidup yang aku rasakan, pada suatu hari aku menceritakan semua
hal yang tidak pernah aku ceritakan padanya, termasuk perlakuan Ibu padaku.
Bude Asti menangis tanpa henti di depanku, aku bingung, tapi aku juga hanya
bisa menangis. Beliau mengutarakan permintaan maaf padaku, entah untuk apa,
lalu keesokan harinya beliau terbang ke Tabanan.
Respon
Bude terhadap ceritaku membuatku merasa aku benar-benar hidup sendirian. Aku
merasa sosok yang selalu aku andalkan sebagai penenang telah pergi karena
cerita konyol kehidupanku. Tapi aku harus kuat dan semangat, karena
satu-satunya yang menjadi semangatku adalah Allah dan teori tentang Ibu. Ya,
meskipun teori bahwa Ibu itu bak malaikat, aku yakin aku juga dapat menerapkan
teori itu, hanya saja untuk saat ini belum berpihak padaku. Bulan demi bulan
berlalu, setiap aku datang ke rumah Ibu, beliau memukulku seperti biasa.
Melempariku dengan panci, gelas, dipukul, dicambuk dengan ikat pinggang, namun
apa daya, aku hanya seorang anak yang berkewajiban menjaga Ibuku, terlebih aku
sangat mencintainya.
Suatu
ketika setelah aku pulang dari bekerja, aku kaget melihat Bude Asti dan
suaminya datang ke rumah, sedang berbincang dengan Ayah. Ini bukan hari raya,
tidak biasanya Bude Asti datang. Wajah beliau memerah lalu menangis ketika
melihatku, entah mengapa. Lalu aku menghampiri beliau dan beliau memelukku
sambil terisak. Lalu dengan pelan beliau mengatakan bahwa aku adalah anaknya.
Anak yang dulu dititipkannya pada adiknya karena himpitan ekonomi dan keadaan
adik iparnya yang divonis mandul.
Aku
merasa hidup dua kali, aku merasa bangun dari mimpi burukku yang terkesan
nyata. Aku menanyakan kebenaran perkataan Bude berkali-kali, dan jawabannya
tetap sama, tangis. Aku ingin berteriak sekencang-kencangnya, mencari
pembuktian tentang semua ini, tapi aku tidak berdaya, aku terlanjur lemas
karena kabar ini. Aku makin tak berdaya ketika Ibu datang lalu memberikan
pengakuan tentang semuanya, serta permohonan maafnya atas perlakuannya selama
ini. Dari situlah titik balik kehidupanku dimulai. Aku tetap meneruskan
sekolahku di sini, di Jogja, tinggal bersama Ayah atau Ibu untuk satu atau dua
hari dalam seminggu, dan menghabiskan sisanya di kos yang telah disewa oleh Ayah
kandungku untukku. Aku bahagia menjalani hari-hariku, seakan-akan tanpa beban,
tidak ada lagi pukulan dan cambukan, tidak perlu lagi aku bekerja agar dapat
jajan ketika sekolah.
Aku
mencintai Ibuku, Ibu asuhku dan Ibu kandungku. Aku tidak akan pernah mungkin
membenci Ibu asuhku. Beliau telah mengasuh dan merawatku, menjadikanku hingga
aku seperti ini, dan pastinya atas jasa beliaulah aku masih dapat tetap hidup.
Terlepas dari pengasuhannya, Ibu angkatku memerlakukanku berbeda. Tidak ada
lagi kata-kata kasar atau pukulan. Kini aku punya dua malaikat, yang keduanya
saling menjagaku seperti permata. Teori tentang Ibu telah berlaku dalam
hidupku, bahkan aku lebih beruntung dari orang lain, karena saat ini aku
memiliki dua malaikat.
Itulah yang diceritakan Fara, aku menangis haru, memeluknya, saling tertawa ketika kami menertawakan air mata kami satu sama lain, tapi aku belajar banyak hal. Betapa Allah mencintai kita begitu dalamnya, memberikan cobaan dengan besarnya hikmah dibaliknya. Fara tidak pernah berputus asa akan rahmat Allah, dan buah dari kesabaran dan keikhlasannya adalah kebahagiaannya saat ini. Fara adalah gadis yang tegar dan kuat, semangatnya, ibadahnya, dan pengorbanannya sangat menginspirasi. Betapa Allah mencintai Fara, begitu pula Allah mencintai kita.
Cerpen ini dimuat pula di : nindinajati.blogspot.co.id

0 komentar:
Posting Komentar