![]() |
| https://images.detik.com |
Embun pagi selalu setia tumbuh, berkembang,
lalu menghilang di pucuk dedaunan. Rerumputan selalu setia bergoyang karena
hembusan angin pagi yang menyejukkan. Kupu-kupu selalu setia menari di udara
menikmati semua keindahan Ilahi Rabbi, dan aku, seorang mahasiswa, masih
seorang mahasiswa yang terus mengabdi, menggadaikan kematian diri untuk
kesejahteraan desa ini. Desa yang aku hormati, cintai, dan aku hargai hingga
saat nanti.
Namaku Sekar, aku adalah lurah yang masih
kuliah, mahasiswa yang penuh dilema, dan anak dari seorang pedagang yang masih
terus mengeluh ketika banyak masalah. Aku mengepalai Desa Dadapan. Sebuah desa
di ujung Yogyakarta yang memiliki mitos bahwa lurahnya akan mati ketika
menjabat. Hingga saat ini, semua lurah memang mati ketika masih menduduki
jabatan lurah. Aku adalah lurah keenam, dan sampai saat ini aku rutin melakukan
check up untuk memastikan kondisiku
baik-baik saja.
Ketika aku dicalonkan kondisi desa ini sangat
kacau. Tidak ada satu orang pun yang mau menjabat menjadi lurah karena takut
tidak amanah. Setelah lurah terakhir meninggal, jabatan tertinggi di desa
dipegang oleh seorang kepala bidang yang tidak mengerti seluk beluk
pemerintahan desa sehingga banyak masyarakat yang tidak dilayani dengan baik.
Banyak masalah yang muncul, hingga dana bantuan untuk masyarakat miskin pun
tidak dapat dibagikan. Aku adalah putri dari seorang tokoh masyarakat yang
cukup berpengaruh. Para tetua dan tokoh masyarakat terus memaksaku untuk
mencalonkan diri. Bagiku, hal itu bukan mencalonkan diri menjadi kepala desa,
tapi mencalonkan diri untuk mati. Aku takut tidak bisa memegang amanah, aku
khawatir kutukan itu bukan hanya untuk orang yang korupsi saja, namun juga
untuk semua orang yang menduduki jabatan lurah sehingga orang yang amanahpun
akan mati ketika menjabat.
Kutukan itu pertama terjadi pada tahun 1990,
dimana lurah meninggal mendadak karena serangan jantung sedangkan rumor yang
beredar adalah lurah tersebut meninggal karena terlibat skandal dengan
sekretaris desa. Lurah kedua meninggal karena kecelakaan yang
dihubung-hubungkan masyarakat terkena kutukan karena tidak adil dalam
membagikan raskin pemerintah. Keluarga yang menerima bantuan raskin adalah
kerabat dekat dari lurah sedangkan masyarakat biasa hanya mendapat sekadarnya.
Lurah ketiga adalah seorang wanita, yang juga meninggal karena kecelakaan.
Lurah wanita pertama tersebut dikabarkan melakukan KKN dengan memberikan
jabatan-jabatan strategis di pemerintahan Desa untuk keluarga dekatnya. Lurah
keempat menderita gangguan kejiwaan lalu gantung diri. Rumor yang berkembang di
masyarakat adalah lurah tersebut mendapatkan kutukan karena menggunakan
anggaran desa untuk kepentingan pribadi. Lurah terakhir meninggal dunia karena terpeleset
dari tangga. Kejadian tersebut terjadi sesaat setelah beliau berdebat dengan
pemuka agama tentang dilarangnya pendirian rumah ibadah yang sangat diperlukan
oleh masyarakat.
Ibuku terus menangis sepanjang malam ketika
warga berdatangan memintaku untuk mencalonkan diri. Sementara ayahku tidak bisa
berbuat apa-apa karena memang tugasnya sebagai tokoh masyarakat adalah melayani
masyarakat. Ayahku berbesar hati meyakinkanku bahwa kutukan itu tidak benar
adanya. Itu hanya isapan jempol yang tidak bermakna. Hal itu hanya batu
sandungan agar tidak ada yang mau mengabdi untuk masyarakat. Karena tekanan
yang begitu besar, akhirnya aku menyetujui untuk mencalonkan diri. Tak lama
kemudian aku dilantik.
Setelah dilantik aku merasa ada yang aneh dengan diriku. Aku
merasa gelisah, takut tidak amanah, hingga akhirnya aku jatuh sakit karena
beban pikiran yang terus berat. Sakit yang aku derita membuat isu berkembang di
masyarakat. Aku yang baru saja dilantik telah terkena kutukan. Aku sudah mulai
tidak amanah sehingga aku sakit-sakitan. Isu-isu itu membuat bebanku semakin
berat. Ayah dan Ibu yang tau bebanku terus berusaha menyemangatiku hingga
akhirnya aku bangkit.
Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan untuk
memperbaiki desa ini. Pikiranku terpecah antara kuliah dengan tanggungjawab
desa. Aku tidak ingin meninggalkan kuliahku yang sekarang sudah menginjak
semester tujuh. Sebentar lagi aku lulus dan mendapatkan pekerjaan yang lebih
baik dan lebih ringan tanggungjawabnya daripada menjadi lurah. Namun apabila
jabatan ini aku tinggalkan, keluargaku pasti akan mendapat cacian dan makian.
Aku tidak tega melihat ibu yang ikut sakit karena memikirkanku.
Akhirnya aku memutuskan untuk cuti dari
aktivitas perkuliahan, lalu fokus pada urusan desa. Hal berat yang harus aku
selesaikan di awal jabatanku ini adalah mencari sumbangan untuk warga miskin
yang jumlahnya mencapai 80% dari total warga. Bantuan dari pemerintah jumlahnya
tidak seberapa. Tidak bisa mencukupi kebutuhan desa. Para donatur mulai mundur
karena takut terkena kutukan. Donatur yang kebanyakan berasal dari perusahaan
itu menjadi semakin ragu ketika pengelolaan dana yang mereka hibahkan tidak
optimal dan tidak tepat sasaran.
Aku terus memutar otak hingga mendapatkan
bantuan dari beberapa organisasi nonprofit. Mereka setuju untuk memberikan
bantuan dengan syarat tingkat kemiskinan harus menurun paling tidak 5% setiap
tahunnya. Itu adalah hal yang berat, namun aku menyanggupi. Satu bulan setelah
penandatanganan perjanjian, aku dan beberapa pegawai desa melakukan sosialisasi
ke dusun-dusun. Potensi terbesar yang dimiliki oleh Desa Dadapan adalah pemandangan
alam. Curug-curug alami banyak terbentuk, namun belum dikelola dengan baik.
Pemandangan di dataran tinggi sungguh luar biasa, akan tetapi akses menuju
kesana terlalu sulit untuk dilalui sepeda motor atau mobil.
Setelah berdiskusi dengan para warga, akhirnya
warga sepakat untuk memperbaiki curug serta membuka café di dataran tinggi yang
ada di Desa Dadapan. Perbaikan jalan menuju lokasi curug dan café diperbaiki
dengan peralatan seadanya secara gotong royong. Proses pemasaran Desa Dadapan
sebagai Desa Wisata terus dilakukan, hingga akhirnya banyak wisatawan yang
berkunjung sehingga perekonomian masyarakat meningkat. Warung-warung kecil
banyak bermunculan di sekitar curug. Penginapan serta rumah makan juga
didirikan di lokasi dataran tinggi yang sering disebut warga sebagai bukit
bintang. Melihat perkembangan perekonomian warga yang semakin membaik, aku bisa
lebih santai, setidaknya tidurku bisa nyenyak, dan Ibu bisa lebih tenang.
Permasalahan berikutnya adalah sengketa tanah
antara warga dengan perusahaan. Sebuah perusahaan garmen terus mendesakku agar
mau meloloskan ijin pendirian pabrik mereka, sedangkan warga merasa keberatan
karena harga beli tanah yang ditawarkan perusahaan cukup kecil dan risiko
kerusakan lingkungan yang akan mereka hadapi tidak sebanding dengan manfaat
yang akan mereka peroleh atas pendirian pabrik itu.
“Mbak, pabrik kami adalah pabrik terbesar di
Jawa Tengah. Keuntungan akan sangat menjanjikan. Saya akan beri 5% dari total
keuntungan saya kepada Mbak kalau Mbak mau menandatangani permohonan ijin saya.
Jumlah itu banyak lho mbak, bisa
dipakai buat Mbak sendiri, atau kalau Mbak sungkan bisa dipakai untuk pesta
rakyat.” Kata Pak Herman, salah satu petinggi di perusahaan garmen. Pak Herman
datang ke rumahku sembari membawakan buah dan selipan amplop kecil di bawah
keranjangnya.
Jika uang itu aku gunakan untuk kebutuhan
pribadiku, pasti aku sudah bisa membeli bisnis frenchise minimarket, bahkan membeli rumah di perkotaan. Aku
menolak itu bukan karena kutukan, namun karena pengabdian. Janjiku untuk
mengabdi kepada masyarakat, dan janjiku kepada Tuhan untuk bersikap amanah.
Godaan-godaan seperti ini harus bisa aku atasi. Desa ini membutuhkan pemimpin
yang berintegritas. Memiliki akhlak yang baik serta perilaku yang bijak.
Sementara itu apabila uang 5% yang ditawarkan
Pak Herman digunakan untuk kebutuhan masyarakat, uang tersebut bisa digunakan
dalam pengembangan usaha maupun memperbaiki fasilitas pendidikan di Desa
Dadapan yang sangat minim. Namun, setelah dibandingkan dengan kerusakan yang
diakibatkan oleh limbah pabrik hal itu tidak sebanding. Perekonomian warga akan
membaik di tahun-tahun awal, tapi kemudian memburuk di tahun berikutnya.
Aku mematung, memikirkan berbagai kemungkinan.
Aku belum bisa memberi jawaban. Aku berkonsultasi dengan banyak tokoh. Lalu
akhirnya aku memutuskan untuk menolak ijin pendirian pabrik. Buah beserta selipan
amplop aku kirimkan kembali ke alamat Pak Herman. Setelah Pak Herman menerima
hadiahnya, beliau lalu menghubungiku melalui telepon. Nada suaranya tenang,
namun mengancam. Beliau mengancam akan melaporkan perbuatanku yang dia nilai
telah mencemarkan nama baik ke pihak kampus, sehingga aku akan di drop out dari kampusku. Aku hanya diam
menanggapi pernyataan beliau. Aku pasrahkan semuanya pada Tuhan, Tuhan akan
menunjukkan siapa yang benar dan salah.
Masalah belum usai, pada suatu siang yang
terik sekumpulan warga yang tergabung dalam ormas Islam mendatangi kantor
kelurahan membawa spanduk serta megaphone. Mereka demo. Seketika aku panik,
berlari mendatangi para petugas administrasi untuk menanyakan apa yang terjadi.
Lalu satu orang menjelaskan kepadaku bahwa warga protes karena aku mengunggah
foto sedang membawa Al-Quran di dalam gereja. Mereka menganggap perbuatanku
telah melecehkan agama.
Setelah mendalami masalah yang terjadi, aku
menghubungi tokoh agama yang netral, bukan hanya Islam, namun juga agama
Kristen dan Hindu yang ada di desa Dadapan. Setelah semua tokoh agama hadir,
diskusi berlangsung. Awalnya warga ngotot bahwa hal yang aku lakukan tidak
dapat dimaafkan,aku harus turun dari jabatan. Namun tokoh agama menengahi
masalah tersebut, hingga berujung damai. Hal tersebut membuatku sadar, bahwa
segala yang aku lakukan saat ini dipantau oleh banyak orang, aku harus
berhati-hati dan teliti dalam melakukan apapun.
~~~
Kondisi desa membaik setelah setahun aku
memperjuangkan desa ini. Pengurangan kemiskinan yang aku janjikan kepada
donatur berhasil aku penuhi. Kemiskinan berkurang hampir 20% berkat pendirian
beberapa UMKM. Kegiatan-kegiatan spiritual baik Islam maupun nonislam terus
digencarkan agar pengetahuan warga tentang toleransi beragama semakin baik.
Tingkat pendidikan warga juga meningkat, anak
yang ingin melanjutkan ke perguruan tinggi kini mendapatkan dana pendidikan
gratis dari program bidik misi. Program ini seakan-akan ditutupi dari desa ini
padahal manfaatnya sangat luar biasa untuk warga desa. Pada awalnya aku melihat
tetanggaku menangis histeris karena tidak diijinkan ayahnya untuk melanjutkan
kuliah karena tidak adanya biaya. Lalu aku bertanya kepadanya tentang beasiswa
bidikmisi yang diberikan cuma-cuma oleh pemerintah untuk siswa tidak mampu.
Ternyata beasiswa tersebut tidak ada di sekolahnya. Dia bersekolah di Madrasah
Aliyah Musthafa Dadapan, satu-satunya sekolah setara SMA yang ada di Desa
Dadapan. Menurut peraturan pemerintah, seharusnya MA dapat mengajukan beasiswa
bidikmisi untuk siswanya.
Mendengar berita itu, keesokan harinya aku
menuju MA. Aku bertemu dengan kepala sekolah mengapa hak bidikmisi tidak
disampaikan kepada siswa.
“Prosedurnya susah Mbak, harus mengurus
persyaratan kesana-kemari. Sedangkan karyawan di Madrasah terbatas.” Kata
Kepala Sekolah.
“Tapi itu kan hak siswa Bu, bukankah itu
merupakan sebuah amanah? Apakah Ibu tidak merasa berdosa apabila tidak
menyampaikan kepada siswa yang sangat membutuhkan?”
“Benar Mbak, tapi tetap saja kami kekurangan
orang untuk mengurusi bidikmisi itu.”
“Dari laporan tahunan yang Ibu berikan ke saya
tadi, saya kira uang untuk menambah karyawan baru atau membayar biaya transport karyawan lama sangat cukup,
bahkan lebih.”
“Tapi pada kenyataannya biaya tersebut tidak
cukup Mbak. Sekolah ini membutuhkan banyak dana untuk perbaikan fasilitas dan
lain-lainnya.” terang Kepala Sekolah.
Aku mengerutkan dahi mendengar pernyataan
beliau.
“Bagaimana bisa tidak cukup Bu? Di laporan
jelas tertulis bahwa uang kas cadangan yang ada sangat cukup untuk membayar dua
karyawan baru sekaligus.” tanyaku pada wanita yang telah mengepalai sekolah ini
selama 10 tahun itu.
Mendengar perkataanku, wajah Kepala Sekolah
mendadak berubah, terkesan kesal dan marah. Beliau lalu meninggalkanku di ruang
tamu cukup lama hingga akhirnya seorang guru datang kepadaku dan menyampaikan
bahwa Ibu Kepala sedang ada acara mendadak. Sikap kepala sekolah itu membuatku
bertanya-tanya. Apa yang terjadi dengan sekolah ini sehingga bidikmisi tidak
dapat didapatkan siswa. Karena aku sangat penasaran dan curiga, aku meminta
laporan tahunan dan laporan keuangan dari sekolah.
Setibanya di kantor, aku memelajari berbagai
laporan sekolah, dan aku menemukan kejanggalan di laporan keuangan. Banyak dana
serta pengeluaran fiktif yang terjadi. Aku kembali ke sekolah dengan penuh
pertanyaan. Namun, kepala sekolah tidak ada. Keesokan harinya aku kembali ke
sekolah, namun Kepala Sekolah masih tidak dapat ditemui. Takut kejadian ini
berlarut terlalu lama, aku mengumpulkan pihak sekolah dan dewan sekolah untuk
berdiskusi di kantor desa.
Pertemuan berlangsung panas, dimana bendahara
sekolah terus menutupi kejanggalan-kejanggalan keuangan, sedangkan dewan
sekolah terus mendesak bendahara untuk berkata jujur. Bendahara dan Kepala
Sekolah yang terus ditekan akhirnya berkata bahwa dana digunakan untuk kegiatan
family gathering yang berlangsung
hingga 3 kali dalam satu tahun. Kegiatan family
gathering tersebut seharusnya hanya dilakukan sekali dalam setahun dengan
anggaran 10 juta. Kegiatan yang mereka lakukan meliputi liburan bersama
keluarga ke Bali dengan pesawat, menginap di hotel berbintang selama beberapa
malam, serta berlibur ke lokasi wisata yang mahal. Oleh karena itulah dana yang
seharusnya bisa digunakan untuk membayar karyawan baru mendadak menghilang.
“Saya sangat menyesal atas keputusan yang
telah saya ambil. Sejujurnya, kegiatan itu saya setujui karena permohonan dari
para guru dan karyawan yang terus mengeluh stress dengan keadaan sekolah. Saya
berjanji akan mengusahakan bidikmisi untuk para siswa, serta mengganti seluruh
dana family gathering.” Jelas Kepala
Sekolah sambil berkaca-kaca.
“Saya sangat mengapresiasi niat Ibu Kepala
untuk bertanggungjawab. Tapi saya juga harus meminta maaf karena berdasarkan
diskusi saya dengan anggota dewan sekolah, kami meminta Ibu untuk melepaskan
jabatan. Bagaimana Mbak Lurah?”
Pertanyaan Ketua Dewan Sekolah membuatku
tercengang. Keputusan yang dibuat sangat terburu-buru.
“Saya setuju dengan keputusan dewan sekolah,
tetapi menurut saya saat ini bukan waktu yang tepat karena bidikmisi harus
diurus secepatnya agar para siswa dapat melanjutkan kuliah. Kalau proses
pengunduran diri Ibu Kepala dilakukan saat ini, hak siswa tahun ini tidak akan
tersampaikan.
Saya tidak membela siapapun, namun alangkah
lebih baiknya jika kita menunggu tahun ajaran baru sehingga hak bidikmisi siswa
dapat tersampaikan, serta persiapan pengangkatan kepala sekolah yang baru dapat
lebih maksimal.” Terangku pada seluruh tamu
Anggota dewan sekolah bergeming mendiskusikan
perkataanku, sementara itu di sisi yang lain kepala sekolah tertunduk mengusap
air mata.
“Baik, kami setuju dengan saran Mbak Lurah.”
Kata ketua dewan sekolah.
Tangis kepala sekolah pecah ketika mendengar
keputusan dewan sekolah. Bendahara yang duduk di sampingnya tak kuasa menahan air
mata sambil menenangkan Kepala Sekolah. Dengan keputusan dewan sekolah,
berakhirlah pertemuan hari itu. Siswa Madrasah kini dapat tersenyum cerah penuh
harapan karena mereka dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi tanpa
biaya. Para orang tua juga semakin bangga, dapat melihat anaknya memiliki
pendidikan tinggi lulus dengan gelar sarjana. Tingginya pendidikan masyarakat
semoga bisa membuat kondisi Desa Dadapan semakin baik dalam berbagai bidang,
karena penyuluh kesadaran masyarakat semakin banyak dan berkualitas.
~~~
Tahun pertama berhasil aku lewati dengan
banyak tawa dan air mata. Begitu pula dengan tahun kedua, ketiga, keempat,
hingga saat ini, tahun kelima. Tahun terakhirku menjabat. Tidak ada sakit
berarti yang aku rasakan. Mungkin karena aku rutin check up, atau karena amanah yang berhasil aku jaga, aku tidak
tahu. Aku merasakan semangat yang membara untuk terus membangun desa ini, namun
aku harus melanjutkan pendidikanku dan membiarkan orang lain untuk memimpin
desa ini agar semakin maju.
Siapapun yang menciptakan mitos kutukan itu,
aku sangat berterimakasih. Karena dengan itulah seleksi alam terhadap pemimpin
desa ini terjadi. Ketakutan akan perbuatan yang menyimpang bisa terus
ditumbuhkan. Benar atau tidaknya mitos itu, satu hal yang patut diyakini adalah
bahwa Tuhan tidak tidur. Pencipta hidup dan mati tidak pernah lalai untuk
selalu mengawasi.








