Senin, 29 Agustus 2016

Pindah ke Desa


Namaku Rani. Aku tinggal di sebuah perumahan mewah di Jakarta. Sejak kecil aku tinggal disini. Setiap hari Papa dan Mama pulang larut malam, sedangkan aku di rumah bersama seorang baby sitter, aku memanggilnya Mbak Tuti. Mbak Tuti sangat baik, dia selalu menemaniku kemanapun aku mau.
Aku mengikuti home schooling, kata Mama sekolah di rumah lebih baik dan lebih aman. Aku tidak memiliki teman karena tetangga-tetanggaku tidak pernah mengajakku bermain. Terkadang aku ingin bergabung bersama mereka bermain di depan rumah, tapi aku takut. Dulu aku pernah mendekati mereka untuk bergabung bermain bersama, tetapi mereka lalu berlari menjauhiku. Sejak saat itu aku tidak mau lagi mendekati mereka.
Aku sangat kesepian. Aku tidak pernah keluar rumah. Papa dan Mama hanya mengajakku jalan-jalan setiap Sabtu dan Minggu. Aku ingin pindah ke sekolah yang biasa saja, agar aku memiliki banyak teman.
Beberapa hari kemudian Papa dipindahtugaskan ke sebuah desa kecil di Yogyakarta. Papa berkata bahwa disana tidak ada home schooling, jadi aku didaftarkan pada sekolah yang biasa. Aku sangat bahagia, akhirnya aku akan menemukan teman baru. Tapi, Mbak Tuti tidak bisa ikut, karena suaminya tidak mengijinkannya ikut kami pindah ke Yogyakarta.
Mama menghiburku agar tidak terlalu sedih berpisah dengan Mbak Tuti. Mama mengatakan bahwa disana kami akan memiliki waktu kebersamaan lebih banyak, karena Mama akan berhenti bekerja. Aku sangat bahagia karena aku bisa memiliki waktu yang lebih lama bersama Papa dan Mama, tapi aku juga sedih harus berpisah dengan Mbak Tuti.
Sesampainya di Yogyakarta, aku sangat terkejut karena rumah yang disediakan oleh kantor Papa sangat berbeda dengan rumah di Jakarta. Rumah ini sangat kecil, hanya ada dua kamar tidur sederhana. Tetapi aku bahagia karena bisa lebih dekat dengan Papa dan Mama.
Keesokan harinya aku berangkat ke sekolah bersama Mama. Mama ingin menemaniku hingga selesai sekolah, tapi aku menolak karena aku ingin mandiri. Sekolah baruku sangat sederhana. Tidak ada fasilitas gedung yang mewah ataupun kolam renang. Aku bertemu banyak teman baru. Disini mereka semua ramah dan baik padaku. Mereka meminjamiku buku, mengajakku jajan, dan berjanji akan datang ke rumahku setelah sekolah usai. Aku sangat senang.
Sesampainya di rumah, aku lalu makan siang. Lalu, ada beberapa anak yang memanggilku dari luar. Ternyata itu adalah Vita, Santi, dan Hendra. Mereka mengajakku bermain di rumah kepala desa. Kata mereka, disana sekarang sedang ada perlombaan anak-anak. Kami lalu berlari menuju rumah kepala desa. Di rumah kepala desa sudah ramai anak-anak. Aku berkenalan dengan mereka. Aku lalu mengikuti lomba lari kelereng. Meskipun aku belum pernah melihat perlombaan seperti itu, tapi aku menang dan mendapatkan hadiah buku tulis dan pensil.


Meskipun kehidupan di desa ini tidak semegah di Jakarta, tapi aku bahagia. Disini aku bisa lebih dekat dengan Mama dan Papa. Udara di sini sejuk dan aku memiliki banyak teman. 

0 komentar:

Posting Komentar