Rabu, 14 September 2016

My Safety, My First Priority

Alhamdulillah, pagi ini Bandung cerah. Sudah beberapa bulan tidak hujan, padahal aku merindukan hujan. Merindukan tawa hujan ketika ia turun dengan deras, merindukan senandung hujan ketika ia menjadi gerimis untuk membuatku tertidur lelap. Hujan yang kurindukan, kapan datang? Meskipun hujan tak juga datang, aku tetap semangat untuk tetap beraktivitas meskipun dibawah teriknya matahari. Aku tidak ingin bercerita tentang hujan hari ini,tapi aku ingin menceritakan sesuatu.
Aku mempersiapkan segala sesuatu untuk aktivitasku hari ini. Memasak, mandi, sarapan, lalu berangkat ke kampus bersama Elsy. Setiap pagi Elsy menjemputku karena memang rumah kami berdekatan dan kami satu kelas. Aku bergegas mengambil helm ketika Elsy datang. Jam sudah menunjukkan pukul 7. Kami akan terlambat kalau tidak segera berangkat.
“Tali helmmu belum kamu pasang tuh El, pasang dulu.” Kataku sambil naik ke motornya.
“Nggak usah, cuma sampai situ doang kok.” Jawabnya. Kampus kami berjarak kurang lebih hanya 500 meter dari rumah. Kami tinggal di perumahan, dan jalan di depan perumahan adalah jalan raya yang besar dan padat setiap pagi. Sehingga kami harus menggunakan helm karena selalu ada polisi. Selalu ada polisi.
Kuliah hari itu berjalan dengan lancar, tanpa tugas dari dosen, tanpa kuis dadakan, dan pastinya tanpa ngantuk karena kuliah hari ini diisi dengan presentasi mahasiswa, sehingga kami dapat aktif bertanya, tidak hanya mendengarkan ceramah dosen.
Hari berikutnya Elsy mengajakku ke Bank. Jarak Bank dari rumah kami sekitar 1 km. Aku kaget ketika dia datang tanpa menggunakan helm.
“Nggak bawa helm, El?” tanyaku.
“Nggak usah, cuma sampai situ kok, lagian kan ini udah agak siangan, udah nggak ada polisi.”
Aku mengambil helm ku lalu memakainya. Elsy pun menatapku aneh.
“Kamu pakai helm?”
“Iya El, untuk keselamatan” jawabku
“Tapi kan nggak ada polisi, Yas” bantahnya
“Iya, El, ada atau tidaknya polisi, ini untuk keselamatan kita sendiri.” Tukasku.
“Aneh dong kalau kamu bonceng di belakang pakai helm.” Kata Elsy.
“Yaudah, mau aku pinjemin helm?”
“Nggak usah, Yas, kamu yang depan aja, aku bonceng di belakang.” Jawab Elsy.
Aku lalu menyalakan mesin lalu berangkat. Ternyata keberuntungan tidak berpihak pada Elsy, di jalan raya terdapat beberapa polisi yang sedang mengatur lalu lintas karena kondisi jalan yang padat dan macet.
“Aduh, gimana nih El, mau balik ngambil helm dulu nggak?” tanyaku pada Elsy.
“Nggak usah Yas, nanti nyempil-nyempil aja biar nggak kelihatan sama polisi.”
Aku lalu mengikuti petunjuknya, nyempil sana, nyempil sini.
“Aduh.” Teriak Elsy.
“Ada apa El?” Tanyaku kaget dan panik.
“Aku dijitak polisi Yas, rese banget deh polisinya.”
Mendengar jawabannya, aku terkekeh. “Salah sendiri nggak mau pakai helm” kataku dalam hati. Kemacetan yang terjadi cukup panjang, namun aku tidak melihat polisi lagi saat ini. Tiba-tiba aku mendengar seseorang berbadan besar berlari ‘brug’ ‘brug’ ‘brug’ seperti sedang mengejar sesuatu. Lalu motorku goyang dan mesinnya mati. Polisi mematikan mesin motorku. Aku kaget. Lalu polisi meminta kami untuk menepi.
Setelah menepi polisi itu mengatakan pada kami bahwa kami kena tilang karena Elsy tidak menggunakan helm. Raut muka Elsy terlihat kesal dan muram. Karena ini kesalahannya, dia wajib membayar denda. Setelah denda di bayarkan, kami tidak diijinkan oleh polisi untuk meneruskan perjalanan. Kami disuruh pulang. Betapa buruk perasaan Elsy saat itu. Ketika dia hendak pergi ke Bank untuk mengambil uang, dia terkena jitakan polisi dan kehilangan uang untuk membayar denda.
Sesampainya di rumahku Elsy hanya diam. Tanpa berkata apa-apa dia langsung pulang. Aku tau apa yang dirasakan Elsy. Setidaknya aku dulu pernah mengalaminya.
Keesokan harinya Elsy berkata padaku bahwa dia akan absen kuliah hari ini karena dia masih badmood. Akhirnya aku memutuskan untuk berangkat bersama Listya hari ini.
“Tumben Yas, Elsy kemana?” Tanya Listya.
“Elsy badmood Lis, dia kemarin habis kena jitak polisi.” Kataku sambil terkekeh. Listya pun ikut terkekeh mendengar ceritaku.
Setelah pulang kuliah sebenarnya aku ingin pulang jalan kaki saja, karena Listya ingin menemui temannya di asrama kampus. Aku tidak ingin merepotkannya, tapi Listya memaksa. Akhirnya aku mengiyakan tawarannya.
Jalan menuju ke asrama kampus cukup rumit. Terlalu banyak jalan searah dan padatnya mahasiswa yang lalu-lalang.
“Loh Lis, kok kita lewat sini. Ini kan jalan searah. Itu ada tanda dilarang masuknya. Nanti kalau ada motor atau mobil dari arah sana bagaimana?” tanyaku panik.
“Tenang aja Yas, kan ada temennya. Tuh lihat depan kita juga ngelanggar.” Ungkapnya.
“Tapi berbahaya Lis, ayo kita balik aja, aku takut.”
“Hahahahahaha, takut apa sih Yas, nggak bakal dijitak polisi kok.” Jawab Listya santai.
Akhirnya aku diam. Dan kami sampai di asrama kampus tanpa kendala. Ketika aku hendak turun dari motor, tiba tiba sebuah motor berhenti disamping kami. Ternyata dia adalah satpam kampus.
“Maaf Neng, tadi Neng lewat jalan satu arah ya? Itu namanya ngelanggar peraturan Neng. Kan udah ada petunjuknya di ujung jalan kalau dilarang masuk, jalan satu arah, kok Neng tetep nerobos.” Kata Satpam.
Listya mencoba menghindar dari semua tuduhan, memberikan alasan ini itu, hingga akhirnya dia kehabisan kata-kata, menyerah, menerima sanksi dari kampus berupa denda dan penyitaan kendaraan selama 10 hari sesuai peraturan yang berlaku di kampus kami. Listya terus menerus memaki-maki satpam itu bahkan sampai kami selesai menemui temannya. Dia terlihat sangat kesal.
Itulah cerita dari dua orang temanku yang memiliki hobi sama, yaitu ‘ngeles’ terhadap peraturan. Aku bukanlah orang yang 100% tunduk pada peraturan, terlebih peraturan lalu lintas. Akan tetapi, ketika aku tau bahwa itu untuk kebaikanku sendiri, keselamatanku, aku akan memenuhinya. Kami cukup beruntung hanya mendapat teguran dan sanksi, sedangkan banyak masyarakat yang rela mengorbankan diri di jalan karena melanggar lalu lintas.
Satu lagi ceritaku tentang lalu lintas, waktu itu aku sedang dalam perjalanan menggunakan mobil dari Bantul menuju ke Solo bersama Bapak. Bapak adalah sosok yang tenang dan santai, dan masalah peraturan lalu lintas beliau pun santai.
“Pak, lampu lalu lintasnya bentar lagi merah, kayaknya nanti kalau kita sampai di depan lampunya udah merah, mending jangan ngebut-ngebut, pelan-pelan aja.” Kataku, namun Bapak justru menekan pedal gas sehingga mobil melaju kencang menerobos lampu merah.
“Pak, kan lampunya merah, kok jalan?” tanyaku agak kesal.
Melu ngarepe (ngikut kendaraan di depan)” jawab Bapak santai. Tentunya alasan Bapak cukup konyol. Beliau sering sekali menerobos lalu lintas dengan alasan yang sama, melu ngarepe. Mungkin alasan lain Bapak adalah karena tidak mau menunggu lama di depan lampu lalu lintas, tapi hal ini cukup ekstrem karena yang dipertaruhkan adalah nyawa.
Aku diam memendam kesal. Hampir setiap saat Bapak seperti ini, santai saat melanggar lalu lintas. Begitu pula lampu merah berikutnya.
Melu ngarepe.” Beliau berkata sebelum aku sempat bertanya. Beliau melihat muka kesalku sambil tertawa kecil. Aku mengeraskan suara radio untuk menutupi rasa kesalku. Ketika aku mulai menikmati lagu, ada dua motor polisi yang meminta kami untuk menepi. Aku yakin kalian mengerti apa yang polisi itu lakukan.
Aku bingung ingin sedih atau tertawa. Tapi kalau tidak seperti ini, Bapak pasti akan terus-menerus melakukan hal yang sama. Menganggap bahwa hal yang beliau lakukan adalah hal kecil yang tanpa risiko. Karena aku cukup hafal dengan bahasa tilang polisi, maka aku memutuskan untuk menikmati musik sambil bersiul di dalam mobil.
Mungkin kadang kita malu untuk menggunakan helm ketika kita hanya pergi 500 meter jaraknya dari rumah. Mungkin kita malas mengenakan seatbelt ketika kita hanya ingin membeli bensin mobil. Mungkin pula kita malas untuk mengambil jalan yang panjang dan memilih jalan yang pendek namun terlarang. Namun sebenarnya untuk apa peraturan-peraturan itu dibuat? Untuk keselamatan kita sendiri. Demi ketertiban masyarakat kita. Bila kita menempatkan keselamatan sebagai prioritas, tentunya tidak ada alasan lagi untuk melanggar lalu lintas.
Aku sangat beruntung memiliki pengalaman-pengalaman ini. Pengalaman yang membuatku sadar bahwa keselamatan itu penting, keselamatan itu perlu, dan keselamatan adalah sebuah kebutuhan. Ayo berubah, motivasi yang lain untuk berubah, sadarkan bahwa keselamatan adalah prioritas, sadarkan bahwa dengan menaati peraturan semua akan aman. Tidak ada kata rugi dalam menaati sebuah peraturan.

Cerpen ini dimuat pula di : nindinajati.blogspot.co.id

Senin, 12 September 2016

Kisah Cinta Gadis Desa


Pada suatu pagi yang berkabut dan tenang, duduk dua gadis desa di teras rumah sederhana. Mereka saling melempar senyum dan menggenggam tangan satu sama lain. Mereka adalah seorang sahabat yang telah terpisah 15 tahun lamanya. Cempaka harus pergi meninggalkan desa untuk transmigrasi bersama keluarganya, sedangkan Kenanga, hidup damai di desa tempat ia lahir.
"Cempaka, kenapa kau belum terlihat mempunyai seorang kekasih? Sedangkan aku akan menikah pada bulan Besar yang akan datang."
"Kenanga, aku tidak ingin jatuh cinta."
"Mengapa Cempaka? Jatuh cinta merupakan anugerah Tuhan, rasanya sangat bahagia, tenang, nyaman, indah sekali Cempaka, kau harus merasakannya" kata Kenanga penuh dengan semangat.
"Aku pernah jatuh cinta, Kenanga."
"Lalu kenapa kau tidak ingin merasakannya kembali? Apakah kau masih mencintai pemuda yang pernah kau cintai itu?"
"Tidak, Kenanga. Aku tidak lagi mencintainya."
"Lalu kenapa Cempaka? Kau harus menceritakannya padaku."
"Dia adalah seorang pemuda dari sebuah desa yang mashur Kenanga, keluarganya sangat kaya, sedangkan aku hanya gadis transmigran dari desa miskin."
Cempaka tertunduk dan terdiam, Kenanga duduk mendekat dan memeluk Cempaka. Dengan suara terisak, Cempaka melanjutkan ceritanya.
"Aku sangat mencintainya, dia adalah cinta pertamaku. Namun, ketika rasa cinta itu sedang membuncah, dia meninggalkanku tanpa alasan yang jelas Kenanga. Semenjak saat itu aku melihat siapa diriku yang memang tidak pantas untuk seorang pemuda yang tampan lagi kaya seperti dia. Secara perlahan dan menyakitkan, aku mengikhlaskannya, aku melepaskannya begitu saja."
"Lalu apakah sekarang kau menyesal Cempaka?"
Cempaka tersenyum manis pada Kenanga. Kenanga yang awalnya sangat bingung, berubah menyunggingkan senyum termanisnya pada sahabatnya itu.
"Tidak, Kenanga. Awalnya aku menyesal. Namun kini aku sadar bahwa itu yang terbaik. Dia bukan pemuda yang pantas mendapatkanku. Dia pemuda yang hanya pantas untuk gadis-gadis lain, bukan untukku. Semakin aku merelakannya, aku semakin bersyukur bahwa aku telah melakukannya. Aku mendapatkan banyak hidayah setelahnya, Kenanga."
Mereka berdua kembali tersenyum dan memeluk satu sama lain.
"Lalu kenapa kau tidak mau jatuh cinta Cempaka?"
"Aku tidak ingin jatuh cinta bila itu mencintai orang yang salah, Kenanga. Aku ingin mencintai jodohku saja. Yang telah dipilihkan Tuhan untukku. Yang mencintaiku karena Rabbku, yang mencintai keluargaku dan keluarganya, yang rela lillahitaala untuk menafkahiku, yang tidak memandang fisikku maupun hartaku."
"Cempaka, tidak ada pemuda yang sesempurna itu. Semua pasti memiliki cela."
"Aku tahu Kenanga, oleh karenanya aku menyerahkan semuanya pada Abah dan Ummi. Ridha Rabbku ada pada mereka."
"Cempaka apakah luka yang kau rasakan pada pemuda itu terlalu dalam?"
"Tidak, Kenanga. Luka itu sudah terobati meskipun berbekas, Ini bukan lagi tentang pemuda itu. Ini tentang jodohku.
Aku ingin mendapatkan yang terbaik Kenanga, tanpa harus sakit hati. Kalau Rabbku menghendaki, aku ingin jatuh cinta sekali saja pada pemuda yang memang tertakdir untukku, kepada pemuda yang takkan mengecewakanku dan mengusahakan kebahagiaanku."
"Lalu dengan pemuda yang meminangmu, Cempaka? Apakah kau akan menolaknya?"
"Aku ingin mengetahui seberapa jauh niatnya, Kenanga. Apakah dia memang benar-benar ingin memperjuangkanku, atau hanya ingin memilikiku saja. Aku butuh keyakinan, dan sampai saat ini dia belum meyakinkanku. Aku ingin memilihnya, Kenanga, tapi Rabbku belum memberi tanda padaku."
"Cempaka, apakah karena harta kau berfikir panjang untuk menerimanya?"
"Tidak, Kenanga, bila karena harta aku sudah mengejar cinta pertamaku. Ini bukan pemikiran panjang pada seseorang, Kenanga, tapi ini adalah pemikiran untuk setiap pemuda yang meminang.
Akhlaq adalah sesuatu yang tidak terlihat secara kasat mata, Kenanga. Aku ingin mendapatkan jodoh dari akhlaqnya, itulah kenapa pemikiran itu penting."
"Lalu apa kata kepala desa kita Cempaka? Beliau akan mengira kau mempermainkan pinangan pemuda itu dengan mengulur-ulur waktu tanpa memberikan jawaban hingga mungkin akan menimbulkan perang dengan desa pemuda itu."
"Tidak, Kenanga, atas izin Rabbku semoga itu tidak akan terjadi. Abah telah membicarakannya dengan para sesepuh desa, dan mereka mengerti.
Kenanga, aku menikmati perasaanku, perasaan yang tidak dapat ku bohongi bahwa aku mengagumi pemuda itu. Namun aku tidak ingin berharap, karena aku menyerahkan harapanku setinggi-tingginya pada Rabbku. Berharap pada manusia sangat menyesakkan, Kenanga, dan aku tidak ingin mengulangnya kembali."
Pembicaraan dua sahabat itu berakhir dengan berkumandangnya suara panggilan ibadah dari surau. Ketika bulan Besar datang, Kenanga menikah dengan pemuda pilihannya. Sedangkan Cempaka ............... (to be continued)

Cerpen ini dimuat pula di : nindinajati.blogspot.co.id

Short Story by nindinajati


Assalamualaikum,

Short Story by nindinajati adalah sebuah blog berisi kumpulan cerpen yang ditulis oleh Nindina Jatiningtyas. Cerpen yang dipublikasikan merupakan cerpen asli penulis baik yang telah dilombakan maupun belum. Beberapa cerpen dalam blog ini telah dimuat pada blog awal penulis yaitu nindinajati.blogspot.co.id. Blog ini dibuat untuk memenuhi tugas matakuliah Pengembangan Konten dan Ekosistem pada Program Studi Manajemen Bisnis Telekomunikasi dan Informatika.
Berikut adalah informasi akademik penulis :
Nama              : Nindina Jatiningtyas
NPM                : 1201134064
Kelas               : MB – 37 – 02
Untuk menjaga originalitas karya, penulis menonaktifkan fasilitas copy paste, baik berupa klik kanan maupun blocking text. Apabila pembaca menginginkan untuk menyalin cerpen karena alasan tertentu, dapat mengajukan ijin melalui email nindinatyas@gmail.com.
Terimakasih dan selamat membaca,

Wassalamualaikum wr.wb 

Minggu, 11 September 2016

Turn Right, Turn Left, Turn Love

Turn Right, Turn Left, Turn Love
http://1.bp.blogspot.com/
Hujan selalu berkesan. Ia mampu membawa setiap insan terbuai dalam kenangan. Kenangan manis, pahit, cinta, derita, semua dalam angan. Hujan di Bandung selalu berbeda, ia lebih tenang. Simfoni hujan Bandung sangat rumit, klasik, tapi artistik. Komposisi alat music apapun tidak akan mampu menandingi indahnya lagu hujan di Bandung, karena Bandung sangat istimewa. Bandung diciptakan ketika Tuhan sedang bahagia. Begitupula Bandung, menciptakan kenangan untukku yang penuh makna.
Hujan deras kala itu di selatan Bandung. Aku dan Fahri sedang menikmati romantisme itu di sebuah café yang tenang dan nyaman. Itu adalah pertemuan pertama kami, setelah beberapa minggu kami dekat karena diperkenalkan oleh sahabatku. Awal mengenalnya biasa saja, seorang laki-laki yang punya hobi begadang dan minum kopi. Tapi lambat laun aku merasakan hal yang aneh, yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Kata orang, aku jatuh cinta.
Aku belum pernah jatuh cinta sebelumnya, merasakan hal seindah ini, senyaman ini, merasa dia adalah satu-satunya lelaki terbaik di dunia, lelaki yang rela menyerahkan seluruh kebahagiaannya untukku, lelaki yang selalu kurindukan setiap malam. Aku pernah dekat dengan beberapa orang teman laki-lakiku, namun belum pernah senyaman ini. Ya, nyaman. Kata pujangga kenyamanan itu segalanya.
Aku bahagia, sangat bahagia, namun sisi hatiku yang lain menolak.
‘Ini tidak sesuai ajaran, ini zina, ini dosa, dan ini bukan aku!’.
Gejolak itu seakan bergulat dengan naluriku di dalam hati. Membengkokkan setiap ruas tulang yang kuat dan menghancurkan yang rapuh. Hal itu semakin menjadi ketika aku dan dia saling meluangkan waktu untuk bertemu, makan berdua, sekedar jalan, atau melakukan apapun berdua, pernyataan kontradiktif itu selalu muncul dan membuatku muak. Aku berusaha mencari pembenaran akan hal-hal itu.
‘Aku tidak pacaran, aku tidak berzina, aku tidak melakukan apapun dengannya, aku menatap matanya saja tidak berani, ini bukan dosa.’
Pembenaran-pembenaran itulah yang menguatkanku bertahan dengannya. Kami memang dekat, tapi kami tidak pacaran. Aku mencintainya, namun aku tidak boleh melakukannya. Aku ragu. Tapi cintaku padanya bukan sebuah keraguan. Aku sangat mencintainya. Aku rela memperjuangkan apapun demi kebahagiaannya, namun tidak untuk kehilangannya. Aku belum siap merelakan keindahan dan kebahagiaan bersamanya. Keindahan hari-hariku setiap waktu bersanding dengannya, kebahagiaan yang selalu membuncah ketika bertemu dengannya, segalanya tentang dia.
Pada suatu malam di balkon resto di pinggir kota Bandung, dia menyatakan perasaannya, lengkap dengan bunga dan bungkusan kotak kecil berwarna merah muda. Seketika itu juga duniaku runtuh di depan mataku sendiri. Aku bahagia, mengetahui cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku bimbang, galau, ragu, apa yang harus aku jawab, hingga akhirnya dia mengerti dan memberikanku waktu untuk memikirkannya. Siang malam menimbang-nimbang, akhirnya aku memantabkan hati untuk menerima cintanya.
Allah berkata lain. Sebuah musibah besar melanda keluarga Fahri. Pabrik milik perusahaan keluarga Fahri terbakar, hingga tidak ada yang tersisa. Fahri sangat terpuruk, sangat terpuruk, hingga dia sangat sulit untuk dihubungi. Aku terus mencoba menjadi orang yang selalu ada untuknya, namun dia menolak, dia terlalu larut dalam kesedihannya, hingga akhirnya dia memutuskan untuk mundur dalam hubungan kami.
Dia akan D.O, meninggalkanku,  dan fokus untuk membangun perusahaan baru bersama keluarganya. Semenjak saat itu, dia menghilang. Dan saat itu pulalah aku hancur. Aku merasa aku memang tidak pantas untuk diperjuangkan, bahkan seluruh caraku untuk membuatnya bahagia ketika dia terpurukpun tanpa arti. Aku bukan siapa-siapa untuknya. Kami sangat berbeda. Fahri dari keluarga yang kaya raya, cerdas, dan terhormat, sedangkan aku hanya anak pensiunan pegawai rendahan di sebuah kantor di kampung yang sebidang sawah pun tidak punya. Aku tidak pantas untuknya. Keputusan Fahri untuk meninggalkanku benar, aku hanya akan mengganggunya apabila hubungan kami terus berlanjut.
Hampir sebulan lamanya setiap malam datang aku menangis, merenungi apa yang baru saja aku alami. Beberapa malam tidak tidur karena kenangan-kenangan yang semakin menusuk hati. Berulangkali jatuh sakit karena memikirkan hal yang sama. Berbuat bodoh dengan mencari-cari perhatian orang lain melalui sosial media. Aku hampir melupakanNya karena rasa sakit yang aku ciptakan sendiri.
Aku sangat berburuk sangka pada Allah saat itu. Aku bahkan lupa bahwa semua perasaan ini karenaNya, dan mungkin ini adalah wujud rasa sayangNya untuk menjagaku. Maafkan aku Ya Rabb. Aku adalah seorang pendosa, seorang yang sangat buruk, yang sangat mengharapkan ampunanMu karena berbagai kesalahan yang aku perbuat. Aku merasa Engkau terlalu menyayangiku, sehingga aku sering lupa kalau semua ini sebenarnya adalah anugrah, wujud kasih sayang, hanya saja aku melihatnya dengan cara yang salah. Rasa sakit itu semakin lama memudar, hilang, terbang terbawa angin dan hujan. Aku kembali ceria, menemukan duniaku yang baru. Hingga suatu hari aku melihatnya di koridor kelas. Fahri masih kuliah. Seketika itu pula aku lemas, kakiku terasa seperti jelly yang tidak kuat menopang berat badanku. Aku bingung, linglung, kaget, dan aku tidak tau lagi. Aku tidak bisa berkata-kata.
Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa dia kembali kesini lagi? Apakah waktu itu Fahri menipuku? Atau semuanya sekarang telah membaik? Ya Allah, rasa hancur itu kembali lagi. Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri, aku masih sangat mencintainya. Bahkan, aku selalu berdiri di pinggir danau berjam-jam hanya untuk melihatnya. Melihat jiwa yang sangat aku cintai, yang penah meninggalkanku karena alasan yang tidak aku mengerti. Kenapa aku gila seperti ini Ya Allah. Setelah aku hampir mengikhlaskannya, dia kembali lagi. Ya, memang kami tidak berkomunikasi lagi, namun selama itu pulalah aku selalu khawatir tentang keadaannya, sehingga berdiri di pinggir danau untuk melihatnya dan memastikan bahwa dia baik-baik saja sudah sangat cukup bagiku. Ya Allah, bila dia memang jodohku, persatukanlah kami di jalan yang Engkau ridhai.
Suatu ketika Fahri memergokiku sedang berdiri di pinggir danau,seketika itu pulalah aku berlari, lalu Fahri menghubungiku, mengajakku bertemu. Ya Allah, ini apa lagi, hamba harus bagaimana.
Aku mengiyakan ajakan Fahri, aku tidak dapat memungkiri perasaanku yang sangat rindu. Kami berbincang di sebuah café di pusat kota Bandung. Dia menceritakan semuanya, tentang perusahaan keluarganya yang kini mulai bangkit kembali. Perasaan merasa bersalah tampak jelas di wajahnya, dan dia mengakui itu. Mengakui bahwa dia menyesal meninggalkanku, dia mengakui bahwa jauh dariku adalah sebuah kesalahan. Seketika itu pula aku merasa dunia runtuh di depan mataku sendiri. Aku mencintainya Ya Allah, dan dia telah kembali.
Pergulatan nafsu kembali terjadi di dalam diriku. Ini kesempatan besar aku bisa mendapatkannya. Seseorang yang sangat aku cintai, yang sangat aku harapkan menjadi pendamping hidupku kelak. Tapi, Islam tidak seperti itu. Aturan hidupku tidak begitu. Sebuah kesalahan besar bila aku mengganggu hidupnya lagi. Dia harus fokus, demi masa depannya. Aku harus mundur. Tapi aku tidak mampu, tidak untuk saat ini.
Semenjak hari itu aku terus meminta petunjuk. Aku sangat bimbang. Aku tau, Islam melarang ini, tapi aku tidak tau kenapa Allah menghadirkan dia kembali. Aku takut aku menyesal. Entah itu penyesalan dalam keputusan yang mana, aku bimbang, aku takut, tapi aku mencintainya. Aku banyak berkonsultasi dengan orang yang sangat baik mengenalku, dan mereka memberikanku penjelasan akan banyak hal.
Akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkannya. Dengan berbagai alasan klasik yang kuberikan untuknya. Mungkin dia mengira ini adalah wujud balas dendamku kepadanya karena dia dulu telah meninggalkanku. Tapi bukan, tidak, aku tidak ingin Fahri berfikir seperti itu. Fahri sangat menerima keputusanku, bahkan dia tidak menahanku untuk pergi sama sekali. Itu membuatku hancur, ketika aku sangat berharap dia akan menahanku untuk pergi, namun yang terjadi adalah sebaliknya. Apakah dia sudah mencintai wanita lain? Aku tidak peduli, yang aku pedulikan adalah aku tetap berada di jalanku dan tetap mencintainya. Aku ingin selalu berada dalam aturanMu Ya Rabb. Aku hancur. Aku sakit. Tapi aku tau, ini adalah proses, ini adalah sebuah pendewasaan hingga nanti pada akhirnya, bila dia memang jodohku, akan Kau hadirkan dia kembali dalam hidupku dengan kesiapan kita masing-masing. Aku percaya itu.
Aku masih mencintainya, masih berdiri di pinggir danau menunggu kedatangannya, diam-diam menunggunya di depan kampusnya, hanya untuk memastikan kalau dia baik-baik saja. Mungkin orang lain mengira aku sudah gila, merelakan orang yang sangat aku cintai. Membiarkan orang itu hidup dengan wanita lain. Tapi itu saat ini, nanti, tentang jodoh kita, rezeki kita, biar Allah yang mengatur. SkenarioNya jauh lebih indah.
Hari demi hari berlalu begitu saja, semakin indah dengan keputusan yang aku buat. Rindu adalah sebuah penyakit, dimana bertemu adalah candu, dan doa adalah obat penahan rasa sakit. Bisa saja aku menemuinya, tapi itu akan membuatku semakin ingin bertemu dengannya lagi dan lagi, sedangkan dengan doa, aku akan tenang, setidaknya dengan doa aku bisa bertemu dengannya, dengan caraNya, atas ijinNya.
Sungguh hijrah ini indah, mengajarkan padaku arti sebuah cinta, kesabaran, dan pembelajaran. Allah sungguh merencanakan segalanya dengan menarik. Tidak ada cacat sedikitpun di dalamnya. Jalan yang aku pilih mungkin dianggap salah oleh banyak orang, tapi aku yakin, ini adalah jalan terbaik. Aku akan mendapatkannya kembali bila dia memang benar-benar jodohku. Dia akan datang kembali di saat yang tepat, di waktu yang tepat, dan bila itu bukan dia, yang akan datang adalah orang yang jauh lebih sempurna.
Pada awalnya sangat sulit, berat menerima kenyataan yang ada. Tapi setelah dijalani dengan ikhlas, selalu berfikir positif dan yakin akan janji Allah, semua jadi semakin mengagumkan. Cinta itu ada etika, dan cara terbaik untuk mendapatkannya adalah dengan doa dan percaya pada skenarioNya.
‘turn right, turn left, turn love’

Tetapilah kebenaran, mantabkan untuk meninggalkan kesalahan, dan cintai apa yang sedang kamu lakukan. Kalimat itu menjadi kalimat penutup di buku diary 2015. Kalimat penutup dari kenangan yang sudah aku ceritakan. Aku siap menulis cerita-cerita indah lain di 2016, yang pastinya akan aku mulai dengan visi misi hidupku di halaman satu. 

Tak Pernah Ternilai


Merantau adalah hal terbaik dalam hidup. Kondisi dimana kau harus bertumpu pada kedua kakimu sendiri. Tanpa memegang apapun. Tanpa memiliki siapapun. Bertahan karena alasan yang tak dapat diperdebatkan, ingin berlari tapi sadar bahwa hal itu hanya akan menghancurkan dirimu sendiri. Merantau adalah hal yang penuh makna, dan aku telah merasakannya. Setidaknya sekarang aku sedang merasakannya. Merasakannya kembali. Setelah sebelumnya aku merantau di tempat yang berbeda, di tempat yang aku harapkan, di tempat yang aku dapatkan dengan penuh perjuangan, di tempat dimana aku menemukan hijrahku.
Waktu itu, aku kelas 3 SMA. Aku bersekolah di sekolah terbaik di Jogja. Aku murid yang berprestasi, aku memenangkan banyak penghargaan tingkat nasional. Aku adalah anak dari pejabat daerah di kotaku, sehingga hidupku sangat berkecukupan. Meskipun aku berprestasi, aku tidak menyukai aktivitas belajar. Aku suka berkelahi, pergi ke klub malam, bahkan melakukan taruhan dengan berbagai jaminan seperti uang, handphone, bahkan wanita. Kalau kata tes psikologi, aku adalah orang yang cerdas.
Masa SMA ku benar-benar masa yang indah menurutku saat itu, aku bisa berprestasi sekaligus melakukan hal-hal yang aku inginkan. Cita-citaku setelah lulus SMA adalah melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Aku ingin menjadi seorang dokter dari sebuah perguruan tinggi terbaik, UGM. Menjadi seorang dokter adalah dambaanku, prestige untuk kedua orang tuaku, dan aku yakin aku akan dengan mudah masuk ke UGM karena prestasiku saat SMA.
Ujian nasional pun datang, aku lalui dengan menghabiskan hari-hariku bersama buku dan teman-temanku. Setelah berjuang, aku kembali pada duniaku, pergi ke klub-klub malam setelah UN usai. Aku mendaftar ke UGM melalui jalur rapor, sehingga aku tidak perlu lagi bersusah payah mempersiapkan diri untuk ujian tertulis. Aku telah merancang banyak hal ketika aku menjadi mahasiswa nanti. Aku ingin lulus dengan cepat lalu melanjutkan pendidikan dokter spesialis penyakit dalam di luar negeri.
Rancangan-rancangan itu beranjak menjauh, semakin jauh ketika aku dinyatakan gagal dalam seleksi. Aku bingung, prestasiku di tingkat nasional cukup banyak dan menguatkan, tapi kenapa ini bisa terjadi? Aku sangat kecewa pada pihak UGM. Aku hendak mencari jawaban atas kekecewaanku pada pihak UGM namun tidak bisa, prosedurnya sangat panjang dan hanya menyita waktu. Akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti tes tertulis. Aku belajar mati-matian untuk tes itu, berharap hal ini akan dapat mengobati kekecewaanku. Aku pun mencari guru privat untuk membimbingku dalam belajar. Hal ini belum pernah aku lakukan sebelumnya, namun aku tau dengan arahan guru privat aku akan lebih mudah belajar. Ketika hari ujian tiba, aku merasa badanku kurang fit, tapi aku paksakan. Aku mengerjakan soal ujian semaksimal mungkin, berharap ini adalah usaha terakhirku. Setelah mengerjakan soal ujian, aku merasakan kepalaku sangat sakit, lalu berputar-putar, dan semuanya berubah gelap.
Aku dirawat di rumah sakit selama hampir seminggu. Satu minggu berikutnya adalah pengumuman hasil ujian. Aku gagal. Kembali gagal. Aku sangat kecewa, begitu pula dengan kedua orang tuaku. Mereka terus bertanya mengapa ini bisa terjadi karena secara logika, aku jelas bisa masuk tanpa tes sekalipun. Akhirnya Bapak menerima sebuah tawaran.
“Untuk kedokteran umum 700 juta pak, itu sudah komplit, tinggal datang ujian, jawab asal-asalan tidak masalah, sudah jelas diterima.” kata seorang rekan Bapak yang terdengar sangat jelas di loudspeaker telfon.
Bapak lalu menatapku, “Gimana le?”
Aku bingung, uang 700 juta itu bukan jumlah yang sedikit, namun aku sangat mendambakan karir sebagai seorang dokter. Akhirnya aku menganggukkan kepala.
Nggih mas. Saya transfer kemana uangnya?” kata Bapak menyetujui. Aku lalu berjalan menuju kamar. Bebanku seolah olah rontok, hatiku terasa plong, ringan, dan aku merasa tidak khawatir lagi.
Ajakan-ajakan teman untuk keluar untuk sekedar hangout mulai aku sanggupi. Aku merasa aku membutuhkan penyegaran pikiran. Akhirnya aku pergi bersama teman-temanku, dan tanpa sepengetahuanku, hari itu aku dipaksa untuk ikut melawan gank motor dari sekolah lain. Biasanya aku memang menjadi koordinator untuk urusan tawuran seperti itu, namun entah kenapa saat itu aku malas sekali, aku merasa tawuran hanya akan membuatku lelah sedangkan yang aku cari adalah penyegaran pikiran dari semua stress yang aku alami. Namun, karena berbagai desakan akhirnya aku menyetujui.
Waktu untuk ujian tulis selanjutnya telah tiba, aku jauh lebih santai. Tanpa persiapan sebelumnya karena memang uang jaminan masukku telah dibayar oleh Bapak. Hari pengumuman pun tiba, namun namaku tidak ada di daftar mahasiswa baru. Aku kaget dan terus mencari. Namun namaku tidak ada, aku tidak lolos. Bapak kecewa berat, lalu beliau mendapatkan kabar bahwa kami tertipu. Seseorang yang tempo hari menghubungi beliau bukanlah orang yang bisa dipercaya. Uang 700 juta pun raib. Bapak melaporkan hal tersebut ke kantor polisi.
Hari-hariku berikutnya berlangsung memburuk, aku gagal kuliah tahun ini. Ibukku sangat sedih. Beliau sangat terpukul dengan segala musibah yang menimpa kami. Beliau sering menangis dalam sholatnya, menggumamkan doa-doa entah apa itu aku tidak dapat mendengarnya. Aku pun ikut berfikir, apakah semua musibah ini karena aku tidak dekat dengan Tuhanku? Apakah aku bukan makhluk yang dicintaiNya lagi? Aku terus berfikir dan berfikir, dan akhirnya aku memutuskan untuk memperbaiki semuanya.
Aku berdiskusi dengan guru-guru agama di daerahku, bahkan di pondok, mencari jawaban atas semua hal ini. Aku mantab berhijrah. Hal itulah yang terbaik yang bisa aku lakukan. Aku akan dapatkan ketentraman hati, bahkan dunia akhirat akan aku genggam dengan berhijrah. Dengan bimbingan para kyai dan guru agama, aku mulai dengan merubah penampilan. Memanjangkan jenggot, memakai baju sesuai tuntunan Rasulullah, serta menjalankan shalat 5 waktu yang selalu aku lalaikan.
Teman-temanku kaget melihat perubahanku. Hari demi hari berlalu dan satu per satu dari mereka pun menjauhiku. Aku tau ini adalah risiko, dan aku tau bahwa hal ini adalah jalan terbaik. Aku menemui semua orang yang pernah aku sakiti untuk meminta maaf secara langsung. Aku temui mereka satu per satu, meyakinkan mereka bahwa aku sungguh-sungguh meminta maaf dan menyesal akan semua perbuatan yang telah aku lakukan. Hal itu tidaklah mudah, karena aku harus benar-benar menurunkan harga diriku dan mengakui segala kesalahanku. Setelah semua permintaan maafku diterima, aku merasa dosaku padaNya masih terlalu banyak. Aku memutuskan untuk berpuasa 100 hari demi menghapus semua beban dosa yang aku pikul.
Dari pihak keluargaku sangat takjub dengan perubahanku. Setidaknya sekarang aku jadi lebih pendiam, begitu kata mereka. Aku lebih suka menghabiskan hari-hariku di pondok tak jauh dari rumahku. Meskipun aku bukan santri tetap disana, namun mereka sangat terbuka terhadapku, sangat mendukung jalan hijrahku.
Bulan demi bulan berlalu dengan cepat, aku belum menyerah terhadap pendidikanku. Aku mendaftar di beberapa perguruan tinggi. Banyak yang menolak, namun ada juga yang menerima. Universitas yang menerimaku kebanyakan universitas dari luar Jogja, yang pastinya mengharuskanku untuk merantau. Salah satu universitas yang menerimaku adalah sebuah universitas swasta di Bandung, aku diterima di fakultas kedokteran. Aku memantabkan diri untuk merantau, hingga akhirnya aku berangkat ke Bandung.
http://www.suararakyatindonesia.org/
Di bumi parahyangan itulah aku menemukan makna sebanarnya dari merantau dan hijrah. Aku bisa menghargai uang, mengelola uang, menjalin hubungan dengan muslim lain yang berbeda budaya dengan baik, mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan yang membuatku makin mengerti tentang Islam, dan hal menakjubkan lainnya. Aku sadar bahwa aku telah melewatkan banyak hal mengenai Islam, menyesal baru saat ini aku bisa mendalami agamaku sendiri.
Selama 4 tahun aku berada di Bandung, aku mendapatkan banyak pelajaran. Pernah aku kehabisan uang, uang yang ada tinggal Rp7.000, uang itu harus bisa aku gunakan selama seminggu. Hingga akhirnya aku mendapatkan pertolongan Allah dengan menjuarai kompetisi menulis ilmiah dengan hadiah Rp5.000.000. Pelajaran seperti itulah yang tak pernah ternilai, pengalaman yang begitu berharga, sebuah harta yang tak pernah terduga keberadaannya. Aku lulus dengan predikat terbaik di universitasku, hingga akhirnya predikat itulah yang menarikku kembali ke dunia perantauan.
Aku mendapatkan beasiswa di Harvard untuk melanjutkan studi kedokteranku. Tentu ini adalah berkah terindah dalam hidupku dari Allah. Aku yang dulunya seorang yang sangat buruk dan keji, justru sekarang mendapatkan rezeki yang tak terduga dari Allah. Aku merasa sangat bersyukur Ya Rabb, aku merasa tidak pantas mendapatkan ini semua. Usahaku belum seberapa, namun Engkau memberikanku hal yang luar biasa indahnya.
Ini adalah tahun keduaku berada di Amerika. Selain kegiatan kampus, aku aktif dalam kegiatan dakwah di Negeri Paman Sam ini. Aku banyak mendapatkan hal-hal baru dari mahasiswa muslim di seluruh penjuru dunia. Karena termasuk kelompok minoritas, aku selalu menghormati agama dan kepercayaan lain karena disini aku tidak sendiri, aku harus berbaur dengan mahasiswa nonmuslim karena semua adalah saudara.
Setelah lulus aku akan kembali ke Indonesia. Memajukan dunia kedokteran di Jogja. Berbagi ilmu yang telah aku dapatkan dengan masyarakat Indonesia. Mengabdikan diriku sepenuhnya untuk agama, negeri, dan keluarga. Aku berjanji akan menjadi dokter yang bermanfaat untuk umat, yang dapat membantu sesama.
Hijrah memang tidak bermula indah, tapi selalu berakhir berkah. Bimbing aku selalu di jalanMu Ya Rabb. Tuntun aku agar selalu mentaati perintahMu, mengikuti sunnah RasulMu, dan menjaga kedua orang tuaku.