Minggu, 11 September 2016

Tak Pernah Ternilai


Merantau adalah hal terbaik dalam hidup. Kondisi dimana kau harus bertumpu pada kedua kakimu sendiri. Tanpa memegang apapun. Tanpa memiliki siapapun. Bertahan karena alasan yang tak dapat diperdebatkan, ingin berlari tapi sadar bahwa hal itu hanya akan menghancurkan dirimu sendiri. Merantau adalah hal yang penuh makna, dan aku telah merasakannya. Setidaknya sekarang aku sedang merasakannya. Merasakannya kembali. Setelah sebelumnya aku merantau di tempat yang berbeda, di tempat yang aku harapkan, di tempat yang aku dapatkan dengan penuh perjuangan, di tempat dimana aku menemukan hijrahku.
Waktu itu, aku kelas 3 SMA. Aku bersekolah di sekolah terbaik di Jogja. Aku murid yang berprestasi, aku memenangkan banyak penghargaan tingkat nasional. Aku adalah anak dari pejabat daerah di kotaku, sehingga hidupku sangat berkecukupan. Meskipun aku berprestasi, aku tidak menyukai aktivitas belajar. Aku suka berkelahi, pergi ke klub malam, bahkan melakukan taruhan dengan berbagai jaminan seperti uang, handphone, bahkan wanita. Kalau kata tes psikologi, aku adalah orang yang cerdas.
Masa SMA ku benar-benar masa yang indah menurutku saat itu, aku bisa berprestasi sekaligus melakukan hal-hal yang aku inginkan. Cita-citaku setelah lulus SMA adalah melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Aku ingin menjadi seorang dokter dari sebuah perguruan tinggi terbaik, UGM. Menjadi seorang dokter adalah dambaanku, prestige untuk kedua orang tuaku, dan aku yakin aku akan dengan mudah masuk ke UGM karena prestasiku saat SMA.
Ujian nasional pun datang, aku lalui dengan menghabiskan hari-hariku bersama buku dan teman-temanku. Setelah berjuang, aku kembali pada duniaku, pergi ke klub-klub malam setelah UN usai. Aku mendaftar ke UGM melalui jalur rapor, sehingga aku tidak perlu lagi bersusah payah mempersiapkan diri untuk ujian tertulis. Aku telah merancang banyak hal ketika aku menjadi mahasiswa nanti. Aku ingin lulus dengan cepat lalu melanjutkan pendidikan dokter spesialis penyakit dalam di luar negeri.
Rancangan-rancangan itu beranjak menjauh, semakin jauh ketika aku dinyatakan gagal dalam seleksi. Aku bingung, prestasiku di tingkat nasional cukup banyak dan menguatkan, tapi kenapa ini bisa terjadi? Aku sangat kecewa pada pihak UGM. Aku hendak mencari jawaban atas kekecewaanku pada pihak UGM namun tidak bisa, prosedurnya sangat panjang dan hanya menyita waktu. Akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti tes tertulis. Aku belajar mati-matian untuk tes itu, berharap hal ini akan dapat mengobati kekecewaanku. Aku pun mencari guru privat untuk membimbingku dalam belajar. Hal ini belum pernah aku lakukan sebelumnya, namun aku tau dengan arahan guru privat aku akan lebih mudah belajar. Ketika hari ujian tiba, aku merasa badanku kurang fit, tapi aku paksakan. Aku mengerjakan soal ujian semaksimal mungkin, berharap ini adalah usaha terakhirku. Setelah mengerjakan soal ujian, aku merasakan kepalaku sangat sakit, lalu berputar-putar, dan semuanya berubah gelap.
Aku dirawat di rumah sakit selama hampir seminggu. Satu minggu berikutnya adalah pengumuman hasil ujian. Aku gagal. Kembali gagal. Aku sangat kecewa, begitu pula dengan kedua orang tuaku. Mereka terus bertanya mengapa ini bisa terjadi karena secara logika, aku jelas bisa masuk tanpa tes sekalipun. Akhirnya Bapak menerima sebuah tawaran.
“Untuk kedokteran umum 700 juta pak, itu sudah komplit, tinggal datang ujian, jawab asal-asalan tidak masalah, sudah jelas diterima.” kata seorang rekan Bapak yang terdengar sangat jelas di loudspeaker telfon.
Bapak lalu menatapku, “Gimana le?”
Aku bingung, uang 700 juta itu bukan jumlah yang sedikit, namun aku sangat mendambakan karir sebagai seorang dokter. Akhirnya aku menganggukkan kepala.
Nggih mas. Saya transfer kemana uangnya?” kata Bapak menyetujui. Aku lalu berjalan menuju kamar. Bebanku seolah olah rontok, hatiku terasa plong, ringan, dan aku merasa tidak khawatir lagi.
Ajakan-ajakan teman untuk keluar untuk sekedar hangout mulai aku sanggupi. Aku merasa aku membutuhkan penyegaran pikiran. Akhirnya aku pergi bersama teman-temanku, dan tanpa sepengetahuanku, hari itu aku dipaksa untuk ikut melawan gank motor dari sekolah lain. Biasanya aku memang menjadi koordinator untuk urusan tawuran seperti itu, namun entah kenapa saat itu aku malas sekali, aku merasa tawuran hanya akan membuatku lelah sedangkan yang aku cari adalah penyegaran pikiran dari semua stress yang aku alami. Namun, karena berbagai desakan akhirnya aku menyetujui.
Waktu untuk ujian tulis selanjutnya telah tiba, aku jauh lebih santai. Tanpa persiapan sebelumnya karena memang uang jaminan masukku telah dibayar oleh Bapak. Hari pengumuman pun tiba, namun namaku tidak ada di daftar mahasiswa baru. Aku kaget dan terus mencari. Namun namaku tidak ada, aku tidak lolos. Bapak kecewa berat, lalu beliau mendapatkan kabar bahwa kami tertipu. Seseorang yang tempo hari menghubungi beliau bukanlah orang yang bisa dipercaya. Uang 700 juta pun raib. Bapak melaporkan hal tersebut ke kantor polisi.
Hari-hariku berikutnya berlangsung memburuk, aku gagal kuliah tahun ini. Ibukku sangat sedih. Beliau sangat terpukul dengan segala musibah yang menimpa kami. Beliau sering menangis dalam sholatnya, menggumamkan doa-doa entah apa itu aku tidak dapat mendengarnya. Aku pun ikut berfikir, apakah semua musibah ini karena aku tidak dekat dengan Tuhanku? Apakah aku bukan makhluk yang dicintaiNya lagi? Aku terus berfikir dan berfikir, dan akhirnya aku memutuskan untuk memperbaiki semuanya.
Aku berdiskusi dengan guru-guru agama di daerahku, bahkan di pondok, mencari jawaban atas semua hal ini. Aku mantab berhijrah. Hal itulah yang terbaik yang bisa aku lakukan. Aku akan dapatkan ketentraman hati, bahkan dunia akhirat akan aku genggam dengan berhijrah. Dengan bimbingan para kyai dan guru agama, aku mulai dengan merubah penampilan. Memanjangkan jenggot, memakai baju sesuai tuntunan Rasulullah, serta menjalankan shalat 5 waktu yang selalu aku lalaikan.
Teman-temanku kaget melihat perubahanku. Hari demi hari berlalu dan satu per satu dari mereka pun menjauhiku. Aku tau ini adalah risiko, dan aku tau bahwa hal ini adalah jalan terbaik. Aku menemui semua orang yang pernah aku sakiti untuk meminta maaf secara langsung. Aku temui mereka satu per satu, meyakinkan mereka bahwa aku sungguh-sungguh meminta maaf dan menyesal akan semua perbuatan yang telah aku lakukan. Hal itu tidaklah mudah, karena aku harus benar-benar menurunkan harga diriku dan mengakui segala kesalahanku. Setelah semua permintaan maafku diterima, aku merasa dosaku padaNya masih terlalu banyak. Aku memutuskan untuk berpuasa 100 hari demi menghapus semua beban dosa yang aku pikul.
Dari pihak keluargaku sangat takjub dengan perubahanku. Setidaknya sekarang aku jadi lebih pendiam, begitu kata mereka. Aku lebih suka menghabiskan hari-hariku di pondok tak jauh dari rumahku. Meskipun aku bukan santri tetap disana, namun mereka sangat terbuka terhadapku, sangat mendukung jalan hijrahku.
Bulan demi bulan berlalu dengan cepat, aku belum menyerah terhadap pendidikanku. Aku mendaftar di beberapa perguruan tinggi. Banyak yang menolak, namun ada juga yang menerima. Universitas yang menerimaku kebanyakan universitas dari luar Jogja, yang pastinya mengharuskanku untuk merantau. Salah satu universitas yang menerimaku adalah sebuah universitas swasta di Bandung, aku diterima di fakultas kedokteran. Aku memantabkan diri untuk merantau, hingga akhirnya aku berangkat ke Bandung.
http://www.suararakyatindonesia.org/
Di bumi parahyangan itulah aku menemukan makna sebanarnya dari merantau dan hijrah. Aku bisa menghargai uang, mengelola uang, menjalin hubungan dengan muslim lain yang berbeda budaya dengan baik, mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan yang membuatku makin mengerti tentang Islam, dan hal menakjubkan lainnya. Aku sadar bahwa aku telah melewatkan banyak hal mengenai Islam, menyesal baru saat ini aku bisa mendalami agamaku sendiri.
Selama 4 tahun aku berada di Bandung, aku mendapatkan banyak pelajaran. Pernah aku kehabisan uang, uang yang ada tinggal Rp7.000, uang itu harus bisa aku gunakan selama seminggu. Hingga akhirnya aku mendapatkan pertolongan Allah dengan menjuarai kompetisi menulis ilmiah dengan hadiah Rp5.000.000. Pelajaran seperti itulah yang tak pernah ternilai, pengalaman yang begitu berharga, sebuah harta yang tak pernah terduga keberadaannya. Aku lulus dengan predikat terbaik di universitasku, hingga akhirnya predikat itulah yang menarikku kembali ke dunia perantauan.
Aku mendapatkan beasiswa di Harvard untuk melanjutkan studi kedokteranku. Tentu ini adalah berkah terindah dalam hidupku dari Allah. Aku yang dulunya seorang yang sangat buruk dan keji, justru sekarang mendapatkan rezeki yang tak terduga dari Allah. Aku merasa sangat bersyukur Ya Rabb, aku merasa tidak pantas mendapatkan ini semua. Usahaku belum seberapa, namun Engkau memberikanku hal yang luar biasa indahnya.
Ini adalah tahun keduaku berada di Amerika. Selain kegiatan kampus, aku aktif dalam kegiatan dakwah di Negeri Paman Sam ini. Aku banyak mendapatkan hal-hal baru dari mahasiswa muslim di seluruh penjuru dunia. Karena termasuk kelompok minoritas, aku selalu menghormati agama dan kepercayaan lain karena disini aku tidak sendiri, aku harus berbaur dengan mahasiswa nonmuslim karena semua adalah saudara.
Setelah lulus aku akan kembali ke Indonesia. Memajukan dunia kedokteran di Jogja. Berbagi ilmu yang telah aku dapatkan dengan masyarakat Indonesia. Mengabdikan diriku sepenuhnya untuk agama, negeri, dan keluarga. Aku berjanji akan menjadi dokter yang bermanfaat untuk umat, yang dapat membantu sesama.
Hijrah memang tidak bermula indah, tapi selalu berakhir berkah. Bimbing aku selalu di jalanMu Ya Rabb. Tuntun aku agar selalu mentaati perintahMu, mengikuti sunnah RasulMu, dan menjaga kedua orang tuaku.


0 komentar:

Posting Komentar