Merantau
adalah hal terbaik dalam hidup. Kondisi dimana kau harus bertumpu pada kedua
kakimu sendiri. Tanpa memegang apapun. Tanpa memiliki siapapun. Bertahan karena
alasan yang tak dapat diperdebatkan, ingin berlari tapi sadar bahwa hal itu
hanya akan menghancurkan dirimu sendiri. Merantau adalah hal yang penuh makna,
dan aku telah merasakannya. Setidaknya sekarang aku sedang merasakannya.
Merasakannya kembali. Setelah sebelumnya aku merantau di tempat yang berbeda,
di tempat yang aku harapkan, di tempat yang aku dapatkan dengan penuh
perjuangan, di tempat dimana aku menemukan hijrahku.
Waktu
itu, aku kelas 3 SMA. Aku bersekolah di sekolah terbaik di Jogja. Aku murid
yang berprestasi, aku memenangkan banyak penghargaan tingkat nasional. Aku
adalah anak dari pejabat daerah di kotaku, sehingga hidupku sangat
berkecukupan. Meskipun aku berprestasi, aku tidak menyukai aktivitas belajar.
Aku suka berkelahi, pergi ke klub malam, bahkan melakukan taruhan dengan
berbagai jaminan seperti uang, handphone,
bahkan wanita. Kalau kata tes psikologi, aku adalah orang yang cerdas.
Masa
SMA ku benar-benar masa yang indah menurutku saat itu, aku bisa berprestasi
sekaligus melakukan hal-hal yang aku inginkan. Cita-citaku setelah lulus SMA
adalah melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Aku ingin menjadi seorang
dokter dari sebuah perguruan tinggi terbaik, UGM. Menjadi seorang dokter adalah
dambaanku, prestige untuk kedua orang
tuaku, dan aku yakin aku akan dengan mudah masuk ke UGM karena prestasiku saat
SMA.
Ujian
nasional pun datang, aku lalui dengan menghabiskan hari-hariku bersama buku dan
teman-temanku. Setelah berjuang, aku kembali pada duniaku, pergi ke klub-klub
malam setelah UN usai. Aku mendaftar ke UGM melalui jalur rapor, sehingga aku
tidak perlu lagi bersusah payah mempersiapkan diri untuk ujian tertulis. Aku
telah merancang banyak hal ketika aku menjadi mahasiswa nanti. Aku ingin lulus
dengan cepat lalu melanjutkan pendidikan dokter spesialis penyakit dalam di
luar negeri.
Rancangan-rancangan
itu beranjak menjauh, semakin jauh ketika aku dinyatakan gagal dalam seleksi.
Aku bingung, prestasiku di tingkat nasional cukup banyak dan menguatkan, tapi
kenapa ini bisa terjadi? Aku sangat kecewa pada pihak UGM. Aku hendak mencari
jawaban atas kekecewaanku pada pihak UGM namun tidak bisa, prosedurnya sangat
panjang dan hanya menyita waktu. Akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti tes
tertulis. Aku belajar mati-matian untuk tes itu, berharap hal ini akan dapat
mengobati kekecewaanku. Aku pun mencari guru privat untuk membimbingku dalam
belajar. Hal ini belum pernah aku lakukan sebelumnya, namun aku tau dengan
arahan guru privat aku akan lebih mudah belajar. Ketika hari ujian tiba, aku
merasa badanku kurang fit, tapi aku paksakan. Aku mengerjakan soal ujian
semaksimal mungkin, berharap ini adalah usaha terakhirku. Setelah mengerjakan
soal ujian, aku merasakan kepalaku sangat sakit, lalu berputar-putar, dan semuanya
berubah gelap.
Aku
dirawat di rumah sakit selama hampir seminggu. Satu minggu berikutnya adalah
pengumuman hasil ujian. Aku gagal. Kembali gagal. Aku sangat kecewa, begitu
pula dengan kedua orang tuaku. Mereka terus bertanya mengapa ini bisa terjadi
karena secara logika, aku jelas bisa masuk tanpa tes sekalipun. Akhirnya Bapak
menerima sebuah tawaran.
“Untuk
kedokteran umum 700 juta pak, itu sudah komplit, tinggal datang ujian, jawab
asal-asalan tidak masalah, sudah jelas diterima.” kata seorang rekan Bapak yang
terdengar sangat jelas di loudspeaker telfon.
Bapak
lalu menatapku, “Gimana le?”
Aku
bingung, uang 700 juta itu bukan jumlah yang sedikit, namun aku sangat
mendambakan karir sebagai seorang dokter. Akhirnya aku menganggukkan kepala.
“Nggih mas. Saya transfer kemana
uangnya?” kata Bapak menyetujui. Aku lalu berjalan menuju kamar. Bebanku seolah
olah rontok, hatiku terasa plong, ringan, dan aku merasa tidak khawatir lagi.
Ajakan-ajakan
teman untuk keluar untuk sekedar hangout
mulai aku sanggupi. Aku merasa aku membutuhkan penyegaran pikiran. Akhirnya aku
pergi bersama teman-temanku, dan tanpa sepengetahuanku, hari itu aku dipaksa
untuk ikut melawan gank motor dari
sekolah lain. Biasanya aku memang menjadi koordinator untuk urusan tawuran
seperti itu, namun entah kenapa saat itu aku malas sekali, aku merasa tawuran
hanya akan membuatku lelah sedangkan yang aku cari adalah penyegaran pikiran
dari semua stress yang aku alami. Namun, karena berbagai desakan akhirnya aku
menyetujui.
Waktu
untuk ujian tulis selanjutnya telah tiba, aku jauh lebih santai. Tanpa
persiapan sebelumnya karena memang uang jaminan masukku telah dibayar oleh
Bapak. Hari pengumuman pun tiba, namun namaku tidak ada di daftar mahasiswa
baru. Aku kaget dan terus mencari. Namun namaku tidak ada, aku tidak lolos.
Bapak kecewa berat, lalu beliau mendapatkan kabar bahwa kami tertipu. Seseorang
yang tempo hari menghubungi beliau bukanlah orang yang bisa dipercaya. Uang 700
juta pun raib. Bapak melaporkan hal tersebut ke kantor polisi.
Hari-hariku
berikutnya berlangsung memburuk, aku gagal kuliah tahun ini. Ibukku sangat
sedih. Beliau sangat terpukul dengan segala musibah yang menimpa kami. Beliau
sering menangis dalam sholatnya, menggumamkan doa-doa entah apa itu aku tidak
dapat mendengarnya. Aku pun ikut berfikir, apakah semua musibah ini karena aku
tidak dekat dengan Tuhanku? Apakah aku bukan makhluk yang dicintaiNya lagi? Aku
terus berfikir dan berfikir, dan akhirnya aku memutuskan untuk memperbaiki
semuanya.
Aku
berdiskusi dengan guru-guru agama di daerahku, bahkan di pondok, mencari
jawaban atas semua hal ini. Aku mantab berhijrah. Hal itulah yang terbaik yang
bisa aku lakukan. Aku akan dapatkan ketentraman hati, bahkan dunia akhirat akan
aku genggam dengan berhijrah. Dengan bimbingan para kyai dan guru agama, aku
mulai dengan merubah penampilan. Memanjangkan jenggot, memakai baju sesuai
tuntunan Rasulullah, serta menjalankan shalat 5 waktu yang selalu aku lalaikan.
Teman-temanku
kaget melihat perubahanku. Hari demi hari berlalu dan satu per satu dari mereka
pun menjauhiku. Aku tau ini adalah risiko, dan aku tau bahwa hal ini adalah
jalan terbaik. Aku menemui semua orang yang pernah aku sakiti untuk meminta
maaf secara langsung. Aku temui mereka satu per satu, meyakinkan mereka bahwa
aku sungguh-sungguh meminta maaf dan menyesal akan semua perbuatan yang telah
aku lakukan. Hal itu tidaklah mudah, karena aku harus benar-benar menurunkan
harga diriku dan mengakui segala kesalahanku. Setelah semua permintaan maafku
diterima, aku merasa dosaku padaNya masih terlalu banyak. Aku memutuskan untuk
berpuasa 100 hari demi menghapus semua beban dosa yang aku pikul.
Dari
pihak keluargaku sangat takjub dengan perubahanku. Setidaknya sekarang aku jadi
lebih pendiam, begitu kata mereka. Aku lebih suka menghabiskan hari-hariku di
pondok tak jauh dari rumahku. Meskipun aku bukan santri tetap disana, namun
mereka sangat terbuka terhadapku, sangat mendukung jalan hijrahku.
Bulan
demi bulan berlalu dengan cepat, aku belum menyerah terhadap pendidikanku. Aku
mendaftar di beberapa perguruan tinggi. Banyak yang menolak, namun ada juga
yang menerima. Universitas yang menerimaku kebanyakan universitas dari luar
Jogja, yang pastinya mengharuskanku untuk merantau. Salah satu universitas yang
menerimaku adalah sebuah universitas swasta di Bandung, aku diterima di
fakultas kedokteran. Aku memantabkan diri untuk merantau, hingga akhirnya aku
berangkat ke Bandung.
Di
bumi parahyangan itulah aku menemukan makna sebanarnya dari merantau dan
hijrah. Aku bisa menghargai uang, mengelola uang, menjalin hubungan dengan
muslim lain yang berbeda budaya dengan baik, mengikuti kegiatan-kegiatan
keagamaan yang membuatku makin mengerti tentang Islam, dan hal menakjubkan
lainnya. Aku sadar bahwa aku telah melewatkan banyak hal mengenai Islam, menyesal
baru saat ini aku bisa mendalami agamaku sendiri.
![]() |
| http://www.suararakyatindonesia.org/ |
Selama
4 tahun aku berada di Bandung, aku mendapatkan banyak pelajaran. Pernah aku
kehabisan uang, uang yang ada tinggal Rp7.000, uang itu harus bisa aku gunakan
selama seminggu. Hingga akhirnya aku mendapatkan pertolongan Allah dengan
menjuarai kompetisi menulis ilmiah dengan hadiah Rp5.000.000. Pelajaran seperti
itulah yang tak pernah ternilai, pengalaman yang begitu berharga, sebuah harta
yang tak pernah terduga keberadaannya. Aku lulus dengan predikat terbaik di
universitasku, hingga akhirnya predikat itulah yang menarikku kembali ke dunia
perantauan.
Aku
mendapatkan beasiswa di Harvard untuk
melanjutkan studi kedokteranku. Tentu ini adalah berkah terindah dalam hidupku
dari Allah. Aku yang dulunya seorang yang sangat buruk dan keji, justru
sekarang mendapatkan rezeki yang tak terduga dari Allah. Aku merasa sangat
bersyukur Ya Rabb, aku merasa tidak pantas mendapatkan ini semua. Usahaku belum
seberapa, namun Engkau memberikanku hal yang luar biasa indahnya.
Ini
adalah tahun keduaku berada di Amerika. Selain kegiatan kampus, aku aktif dalam
kegiatan dakwah di Negeri Paman Sam ini. Aku banyak mendapatkan hal-hal baru
dari mahasiswa muslim di seluruh penjuru dunia. Karena termasuk kelompok
minoritas, aku selalu menghormati agama dan kepercayaan lain karena disini aku
tidak sendiri, aku harus berbaur dengan mahasiswa nonmuslim karena semua adalah
saudara.
Setelah
lulus aku akan kembali ke Indonesia. Memajukan dunia kedokteran di Jogja.
Berbagi ilmu yang telah aku dapatkan dengan masyarakat Indonesia. Mengabdikan
diriku sepenuhnya untuk agama, negeri, dan keluarga. Aku berjanji akan menjadi
dokter yang bermanfaat untuk umat, yang dapat membantu sesama.
Hijrah
memang tidak bermula indah, tapi selalu berakhir berkah. Bimbing aku selalu di
jalanMu Ya Rabb. Tuntun aku agar selalu mentaati perintahMu, mengikuti sunnah
RasulMu, dan menjaga kedua orang tuaku.

0 komentar:
Posting Komentar