Menggantikan
Tugas Bunda
“Sinta,
nanti sore Bunda mau pergi ke Semarang. Tante Farida melahirkan, jadi Bunda
harus kesana.” Kata Bunda
“Tapi
Bunda, aku dirumah sama siapa?” tanyaku sambil merengek
“Ada Ayah,
sayang. Bunda besok malam udah balik ke Jakarta lagi kok.”
Aku terdiam.
Aku sedih sekali. Ingin rasanya aku ikut bunda ke Semarang, tapi besok aku
harus sekolah. Banyak PR yang belum aku kerjakan.
“Sinta,
sayang, besok tolong panaskan makanan untuk sarapan kamu dan Ayah ya. Ada ayam
di kulkas tinggal dipanaskan. Tolong ya sayang, anak Bunda yang paling pinter.”
Aku
mengangguk.
Pukul 4
sore Ayah dan Adik mengantar Bunda ke bandara. Aku sendirian di rumah, karena
tadi Bunda berpesan agar aku menyetrika seragam sekolahku. Aku menuju tempat
setrika. Disana banyak baju yang tertumpuk. Aku harus mencari
seragam-seragamku. Setelah aku menemukan 2 pasang seragam, aku lalu
menyetrikanya.
Menyetrika 2
pasang seragam saja sangat berat rasanya bagiku. Panas, harus rapi, dan
hati-hati. Aku tidak bisa membayangkan rasanya jadi Bunda yang harus menyetrika
semua pakaian kami setiap hari.
Setelah aku
selesai menyetrika, aku lalu mandi. Ayah dan Adikku pulang, mereka membawa
makan malam untuk kami. Setelah makan malam, cucian piring di dapur menumpuk
sangat banyak. Aku lalu mencucinya meskipun mataku sudah sangat lelah ingin
tidur. Setelah mencuci piring, aku lalu tidur.
Pagi harinya,
aku bangun lebih awal karena Bunda memintaku untuk menyiapkan sarapan. Aku mengambil
ayam yang telah dimasak lalu menghangatkannya. Setelah itu aku memasak nasi. Aku
tidak tau bagaimana caranya memasak nasi, lalu aku bertanya kepada Ayah.
“Kalau
sudah dicuci bersih, nanti airnya segini ya,” kata Ayah sambil menunjukkan
garis paling atas di jarinya. Aku mengangguk lalu berlari ke dapur. Aku melihat ada beberapa sayuran dan jamur di kulkas, lalu aku membuat tumis. Membuat tumis adalah keahlianku yang aku pelajari dari Bunda.
![]() |
| http://static.republika.co.id/ |
Setengah jam
kemudian semua masakan sudah selesai. Aku harus menyiapkan bekal rotiku
sendiri. Juga menyiapkan bekal untuk Adik. Rasanya sangat terburu-buru sekali.
Bunda memang hebat bisa menyelesaikan semuanya tepat waktu.
Setelah sarapan,
aku mencuci piring dengan terburu-buru karena waktu sudah menunjukkan pukul
06.45 pagi. Ayah memintaku untuk meninggalkan cucian piring itu, tapi aku tidak
mau. Aku tidak ingin membuat Bunda yang baru saja perjalanan jauh harus
mengurusi pekerjaan rumah.
Sesampainya
di sekolah, aku merasa sangat lemas. Mengerjakan pekerjaan rumah sangat
melelahkan. Aku harus berterimakasih kepada Bunda yang telah melakukan semuanya
untukku. Bunda sangat hebat. Pukul 5 sore Ayah menjemputku di sekolah. Setelah
itu kami menjemput Bunda di bandara.

0 komentar:
Posting Komentar