Sabtu, 27 Agustus 2016

Menggantikan Tugas Bunda

Menggantikan Tugas Bunda
“Sinta, nanti sore Bunda mau pergi ke Semarang. Tante Farida melahirkan, jadi Bunda harus kesana.” Kata Bunda
“Tapi Bunda, aku dirumah sama siapa?” tanyaku sambil merengek
“Ada Ayah, sayang. Bunda besok malam udah balik ke Jakarta lagi kok.”
Aku terdiam. Aku sedih sekali. Ingin rasanya aku ikut bunda ke Semarang, tapi besok aku harus sekolah. Banyak PR yang belum aku kerjakan.
“Sinta, sayang, besok tolong panaskan makanan untuk sarapan kamu dan Ayah ya. Ada ayam di kulkas tinggal dipanaskan. Tolong ya sayang, anak Bunda yang paling pinter.”
Aku mengangguk.
Pukul 4 sore Ayah dan Adik mengantar Bunda ke bandara. Aku sendirian di rumah, karena tadi Bunda berpesan agar aku menyetrika seragam sekolahku. Aku menuju tempat setrika. Disana banyak baju yang tertumpuk. Aku harus mencari seragam-seragamku. Setelah aku menemukan 2 pasang seragam, aku lalu menyetrikanya.
Menyetrika 2 pasang seragam saja sangat berat rasanya bagiku. Panas, harus rapi, dan hati-hati. Aku tidak bisa membayangkan rasanya jadi Bunda yang harus menyetrika semua pakaian kami setiap hari.
Setelah aku selesai menyetrika, aku lalu mandi. Ayah dan Adikku pulang, mereka membawa makan malam untuk kami. Setelah makan malam, cucian piring di dapur menumpuk sangat banyak. Aku lalu mencucinya meskipun mataku sudah sangat lelah ingin tidur. Setelah mencuci piring, aku lalu tidur.
Pagi harinya, aku bangun lebih awal karena Bunda memintaku untuk menyiapkan sarapan. Aku mengambil ayam yang telah dimasak lalu menghangatkannya. Setelah itu aku memasak nasi. Aku tidak tau bagaimana caranya memasak nasi, lalu aku bertanya kepada Ayah.
“Kalau sudah dicuci bersih, nanti airnya segini ya,” kata Ayah sambil menunjukkan garis paling atas di jarinya. Aku mengangguk lalu berlari ke dapur. Aku melihat ada beberapa sayuran dan jamur di kulkas, lalu aku membuat tumis. Membuat tumis adalah keahlianku yang aku pelajari dari Bunda.
http://static.republika.co.id/
Setengah jam kemudian semua masakan sudah selesai. Aku harus menyiapkan bekal rotiku sendiri. Juga menyiapkan bekal untuk Adik. Rasanya sangat terburu-buru sekali. Bunda memang hebat bisa menyelesaikan semuanya tepat waktu.
Setelah sarapan, aku mencuci piring dengan terburu-buru karena waktu sudah menunjukkan pukul 06.45 pagi. Ayah memintaku untuk meninggalkan cucian piring itu, tapi aku tidak mau. Aku tidak ingin membuat Bunda yang baru saja perjalanan jauh harus mengurusi pekerjaan rumah.

Sesampainya di sekolah, aku merasa sangat lemas. Mengerjakan pekerjaan rumah sangat melelahkan. Aku harus berterimakasih kepada Bunda yang telah melakukan semuanya untukku. Bunda sangat hebat. Pukul 5 sore Ayah menjemputku di sekolah. Setelah itu kami menjemput Bunda di bandara.

0 komentar:

Posting Komentar